Apa Pekerjaan Domestik Selalu Jadi Tugas Perempuan?

 

Apa memang pekerjaan domestik hanya milik kaum perempuan?

Opinia Sunday Story ss4

Hari Perempuan Internasional dirayakan seluruh dunia setiap tanggal 8 Maret. Inilah hari dimana kita berkumpul untuk merayakan pencapaian, dengan misi utama untuk menyerukan kesetaraaan gender.

Tema yang diusung tahun ini adalah #EachforEqual, mewakili semangat individu menentang stereotip, melawan prasangka dan merayakan pencapaian perempuan.

Tahun 2020 menjadi tahun yang penting untuk kesetaraan gender. Salah satunya adalah momentum peringatan ke 25 Deklarasi dan Platform Aksi Beijing dan 10 tahun berdirinya Perempuan PBB.

Berbicara soal kesetaraan gender, film pendek berjudul ‘Kisah di Hari Minggu (Sunday Story)’ mengusung kisah keseharian yang mungkin familiar bagi kita semua. Premisnya sederhana saja, seorang ibu sibuk menyiapkan sarapan dan mengantar anak-anaknya untuk pergi sekolah sementara sang suami tidur dengan pulas.

Mungkin terasa biasa, sampai sang ibu sadar bahwa ini adalah Minggu.

Film pendek arahan Adi Marsono pada tahun 2017 ini meraih penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Jogja NETPAC Asian Film Festival di tahun yang sama. Dalam tutur sederhana, film ini mengajak kita untuk memaknai ulang makna kerja, yang seringkali identik dengan mencari nafkah.

Makna “pekerjaan” dalam rumah tangga

Berlangganan Viddsee

Tonton ‘Kisah di Hari Minggu (Sunday Story)’ arahan Adi Marsono (Indonesia) di Viddsee!

Pekerjaan domestik adalah pekerjaan yang berhubungan dengan rumah tangga. Menyapu, menjemur pakaian, memasak hingga mengasuh anak hanya sedikit bagian dari pekerjaan domestik. Sementara KBBI mendeskripsikan makna pekerjaan sebagai tugas kewajiban atau sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian.

Jika arti “pekerjaan” dikaitkan dengan arti yang kedua, tentunya sebagai Ibu Rumah Tangga hal tersebut bukan menjadi hal yang relevan. Berapa banyak dari kita yang pernah mendengar Ibu Rumah Tangga sebagai sebuah “profesi” yang digaji?

Ketika kemudian kita melekatkan “pekerjaan” dalam arti yang pertama yaitu tugas kewajiban maka pertanyaan selanjutnya yang membekas adalah, “Apa memang pekerjaan domestik jadi tugas kewajiban Ibu (dalam hal ini perempuan) saja?

Pekerjaan domestik tak pernah ada habisnya. Ia tak mengenal jam kerja, hari libur maupun cuti. Dua puluh empat jam tujuh hari seminggu, tanpa ada habisnya.

Pekerjaan Domestik, Tugas Siapa?

Opinia Sunday Story ss1

Syaldi Sahude dalam acara Kajian Filsafat dan Feminisme pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa peran domestik memiliki sejarah yang panjang dan hampir berada di semua level masyarakat, bukan hanya keluarga.

Dalam konteks Indonesia sendiri, Syaldi menjelaskan bahwa pembagian peran gender kerap dilekatkan dengan dikotomi kerja publik-domestik, rasional-emosional, yaitu kerja-kerja di ruang publik yang sering dilekatkan dengan kerja maskulin sementara kerja di ruang domestik dilekatkan dengan kerja yang feminin.

Bahkan beberapa pekerjaan seperti perawat, bendahara maupun sekretaris dianggap sebagai pekerjaaan perempuan walau itu berada di ruang publik yang ‘maskulin’ sekalipun.

Baca juga: Kerja-Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Laki-Laki dan Perempuan

Opinia Sunday Story ss3

Idealnya sepasang suami istri harus bisa berbagi pekerjaan domestik, entah itu sang perempuan adalah ibu rumah tangga maupun memiliki pekerjaan. Menurut survei daring yang dilakukan oleh Yayasan Pulih dan Aliansi Laki-Laki Baru di tahun 2018, pada dasarnya sebagian besar generasi muda saat ini tidak bermasalah dengan pembagian tugas domestik.

Walau secara teknis pembagian tugas domestik tidak sulit, stigma laki-laki mengerjakan tugas rumah tangga kerap tidak dianggap mengingat citra pekerjaan domestik terlanjur dianggap sebagai: 1) aktivitas (perempuan) yang menunggu rumah, 2) tidak produktif dan tidak menghasilkan uang, 3) tidak berwibawa dan sesuai kodrat lelaki.

Padahal sungguh, tak ada yang salah dengan berbagi pekerjaan domestik yang tak pernah ada habisnya ini.

Berapa “gaji” dari Ibu Rumah Tangga?

Opinia Sunday Story ss2

Jika mengacu pada citra pekerjaan domestik sebagai sesuatu yang tidak produktif dan tak menghasilkan uang sementara ia tak mengenal jam kerja, hari libur maupun cuti, pernahkah kita membayangkan berapa sebetulnya penghasilan seorang ibu rumah tangga jika pekerjaannya digaji?

Sebuah artikel dari Atur Duit menjabarkan sebagian kecil dari tugas domestik itu sendiri. Mulai dari mengasuh anak, membereskan rumah, mengajar, hingga mengatur keuangan, seorang ibu yang penuh waktu tinggal di rumah dapat menghasilkan minimal Rp 7,5 juta.

Mengapa minimal? Karena penjabaran tersebut merupakan angka terendah dari gaji setiap profesi yang dijalankan para ibu dalam mengurus keluarga.

Untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang dianggap tak menghasilkan uang, bisa kita bayangkan besarnya nilai minimal jika ranahnya terjadi di ruang publik alih-alih ruang domestik bukan?

Adegan terakhir dalam ‘Kisah di Hari Minggu’ menampilkan sang suami membantu istrinya untuk mencuci piring. Hal tersebut baru dilakukan ketika istrinya marah karena kelelahan yang mendera.

Kalau mau dipikir-pikir, apa kita baru turun tangan membantu pekerjaan rumah tangga setelah ada pertikaian seperti ini? Mengapa kita tidak mulai membantu mengerjakan pekerjaan domestik mulai sekarang?

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Selanjutnya: Mengapa Banyak yang Bertahan Dalam Hubungan Tak Sehat?

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?