Baby Boomers Hobi Eksis Jadi Inspirasi Rein Bikin ‘Oldies Buddies’?

 
Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)
Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)

Rein Maychaelson, Gold Winner Viddsee Juree Awards Indonesia 2018 ini tak pernah kehabisan ide cerita. Baginya, inspirasi menulis sebuah naskah film bisa didapat dari mana saja. Misalnya, dari observasi hal-hal kecil yang ada di keseharian. Inspirasi juga bisa datang dari beragam fenomena sosial yang terjadi di sekeliling kita.

Tak terkecuali saat ia menulis naskah ‘Oldies Buddies’. Mendapat kesempatan besar berupa dana produksi sebagai pemenang utama, merupakan sebuah apresiasi yang berharga baginya. Oleh karena itu, Rein berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan peluang ini dengan melahirkan ide cerita yang menarik. Apalagi, Rein juga mendapat kesempatan bekerjasama mengembangkan ide dan menjalani proses kreatifnya bersama Viddsee Studios Indonesia.

Berbicara mengenai proses kreatif yang dijalani Rein, ada cerita menarik di balik penulisan naskah film pendek yang rilis beberapa waktu lalu. Ditemui di Malam Pembukaan Viddsee Juree Awards Indonesia 2010 yang sekaligus menjadi penayangan perdana ‘Oldies Buddies’, ia dengan senang hati berbagi cerita kepada kami.

Bagaimana sih proses awal kerjasama dengan Viddsee Studios untuk project ‘Oldies Buddies’ ini?

Rein: Tahun 2018 lalu, film pendek saya ‘Errorist of Season’ menang di Viddsee Juree Awards Indonesia, sebagai bentuk penghargaan atau apresiasi, saya juga mendapat grant berupa dana produksi. Dari dana itu, kita bikin film bersama Viddsee Studios.

Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)
Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)

Apa sih inspirasimu ketika menulis ‘Oldies Buddies’ ?

Rein: Generasi kita rata-rata orang tuanya adalah generasi baby boomer. Mereka juga terpapar teknologi, cuma tidak secanggih kita. Sebenarnya cerita ini terinspirasi dari orangtua saya, mereka punya WhatsApp grup, yang isinya alumni anak-anak SMA. Yang lucu gini, setiap kali ada broadcast message dari salah satu temannya, itu akan disebarkan lagi ke grup keluarga. Hal-hal seperti ini terkadang menjadi sangat annoying.

Singkat cerita, dari situ sih berangkatnya ide ini. Ingat ngga sih dulu jaman pertama kali ada HP? Terus kita semua anak-anaknya pegang HP, orangtua malah membatasi kita. Tidak boleh sering-sering pegang HP dan sebagainya. Karena mereka belum paham juga kan sebenarnya. Begitu mereka paham, malah terbalik, mereka jadi bertingkah sebaliknya. Bahkan tingkah lakunya kembali seperti anak kecil, cenderung childish gitu. Lihat sesuatu yang menarik dikit, langsung disebarkan. Sekarang malah seringnya di meja makan, saya yang tidak pegang HP, tapi orang tua malah pegang HP. Childish banget kan? Dari situ saya berpikir untuk mengaitkan dengan WhatsApp grup SMA. Bagaimana kalau ada mantan pacar di grup itu? Lalu nanti akan seperti apa ya reaksi mereka? Pasti mereka akan bertengkar seperti anak kecil juga.

Berkaitan dengan dua karakter kuat dalam film pendek ini, bagaimana proses pemilihan pemainnya?

Rein: Kalo mau dapat pemain profesional agak susah ya, karena kebanyakan mereka pasti orientasi-nya income. Jadi kita sesuaikan dengan dana produksinya saja, yang penting dari pemain yang terpilih punya kualitas akting.

Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)
Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)

Bagaimana dengan proses pemilihan kru di lapangan?

Rein: Sebelum projek ‘Oldies Buddies’, saya dan teman-teman punya projek film pendek yang sempat ditunda. Dari kru yang sudah terkumpul di projek sebelumnya itulah yang terlibat kembali di dalam produksi kali ini.

Bagaimana untuk pemilihan lokasinya?

Rein: Prosesnya lumayan cepat, waktu itu langsung ditawarin oleh produsernya sebuah rumah untuk lokasi shooting. Beruntung sekali, lokasi yang ditawarkan juga sesuai. Jadi saya setuju.

Ada kendala selama proses produksi ini? Kalau ada, bisa diceritakan?

Rein: Sebenarnya sempat ada skrip yang sudah saya ajukan ke produser beserta tim Viddsee Studios sebelumnya. Namun, di tengah proses kreatif yang berjalan, ada penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan. Sehingga dibutuhkan pengembangan ide baru yang lebih menarik dan simple. Karena itu, munculah skrip baru berjudul ‘Oldies Buddies’ ini.

Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)
Proses dibalik produksi film Oldies Buddies (sumber: Rubamera Creative)

Sepanjang proses produksi ini, ada memorable moment yang bisa diceritakan?

Rein: Ada pengalaman yang cukup memorable selama proses kreatif ini berjalan. Ini lebih ke sebuah teknis dan treatment yang diterapkan di film pendek ini. Yaitu ketika kita memikirkan bagaimana caranya mengadaptasi digital language ke dalam film ini. Yang bukan cuma menjadi treatment, tapi juga berperan memegang satu sequence penting. Ketika nonton filmnya, nanti ada di bagian terakhir. Kalau diperhatikan, pada bagian ini sudah bukan menggunakan dialog lagi. Tapi kita mencoba adapt visual language ke situ. Silahkan nonton langsung ya bentuk visual languagenya seperti apa. Pasti akan sangat menarik jadinya. Hehe…

Tonton ‘Oldies Buddies’ arahan Rein Maychaelson (Indonesia) sekarang!

Berlangganan Viddsee

Rein Maychaelson adalah pemenang Viddsee Juree Awards Indonesia 2018 dan memenangkan Dana Produksi sebesar Rp 40 juta. ‘Oldies Buddies’ adalah film pendek yang ia produksi bersama Viddsee Studios Indonesia.

Penulis: Maylinda Cecilia
Editor: Indanavetta Putri

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?