Sudah Saatnya Pemerintah Melarang Perdagangan Daging Anjing!

 

Daging anjing berbahaya untuk kesehatan masyarakat Indonesia

Aya Diandara, Campaign Director Dog Meat Free Indonesia
Aya Diandara, Campaign Director Dog Meat Free Indonesia

Mata anjing itu melebar ketakutan ketika ia dimasukkan paksa ke dalam karung dan beberapa pria memegangi karung tersebut seketika layar berubah hitam. Data penelitian kesehatan terkait konsumsi daging anjing kemudian muncul dilatarbelakangi oleh suara salaknya yang sedang ditenggelamkan hidup-hidup. Bagi penonton, adegan pembuka film dokumenter ‘Asu’ hanyalah awal dari mimpi buruk. Tapi bagi anjing-anjing ini, kehidupan mereka berakhir melalui serangkaian siksaan yang bahkan tak bisa kita bayangkan.

Tonton ‘Asu (Prokontra)’ arahan Achmad Rezi Pahlevie (Indonesia) sekarang!

Konsumsi daging anjing bukanlah hal yang lazim, walau telah diterima oleh masyarakat di Indonesia. Di beberapa daerah, mengonsumsi daging anjing telah menjadi tradisi yang terlegitimasi secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Dari hasil survei dan investigasi lapangan Dog Meat Free Indonesia, hanya 7% dari masyarakat Indonesia yang mengonsumsi daging ini. Selain tradisi, daging anjing dianggap memiliki kandungan gizi sehingga tetap dikonsumsi, seperti yang terjadi di Solo. Ini tentu menjadi mitos yang membahayakan, mengingat daging anjing tinggi dengan kandungan natrium yang bisa memicu hipertensi. Ia juga berisiko meningkatkan infeksi pencernaan karena cacing pita atau bakteri kolera, serta infeksi parasit seperti E. Coli dan Salmonella.

Perdagangan daging anjing yang ilegal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)
Perdagangan daging anjing yang ilegal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)

Dan yang paling parah dari itu semua: ancaman penyebaran rabies.

Laporan WHO untuk Asia Tenggara menyebutkan bahwa 96 persen dari kasus rabies di wilayah tersebut disebabkan oleh anjing. Di Indonesia sendiri, WHO menyatakan bahwa perdagangan daging anjing untuk dikonsumsi merupakan salah satu penyebab penyebaran rabies.

Tapi, apakah konsumsi daging anjing jadi penyebab penyebaran rabies? Kami menghubungi Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi non-profit yang fokus pada isu kesejahteraan hewan di Indonesia serta salah satu inisiator kampanye Dog Meat Free Indonesia (DMFI). Kami bertemu dengan Aya Diandara selaku Campaign Director DMFI serta Karin Franken selaku salah satu founder JAAN di kawasan Warung Buncit untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seluk beluk konsumsi daging anjing serta isu animal welfare di Indonesia.

Fokus untuk menghentikan perdagangan daging anjing

Dog Meat Free Indonesia merupakan kampanye aktif yang digagas oleh organisasi non-profit, JAAN, Change for Animal Foundation (CFAF), Animal Friends Jogja (AFJ), Humane Society International (HIS), Animals Asia, dan Four Paws. Kampanye ini sendiri merupakan evolusi dari kampanye Dogs Are Not Food. Lalu, apa yang membedakan DMFI dengan kampanye sebelumnya?

Peter Egan, aktor Inggris yang menyaksikan langsung perdagangan daging anjing (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)
Peter Egan, aktor Inggris yang menyaksikan langsung perdagangan daging anjing (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)

“Di kampanye sebelumnya kami fokus pada pesan kalau anjing itu sahabat manusia dan bukan makanan. Tapi ternyata, kita tuh gak bisa membuat perubahan yang signifikan besar kalau kita fokus ke melarang orang untuk makan apa. Walau kami juga tetap melakukan investigasi dan mendorong pemerintah, tapi koalisasi organisasi yang tergabung hanya JAAN dan AFJ,” ungkap Aya serius.

Sebagai salah satu pihak yang mengerti konflik yang terjadi di lapangan serta memiliki akses untuk mendorong pemerintah, JAAN sadar bahwa mereka tak memiliki dana yang cukup untuk melakukan investigasi serta kampanye besar-besaran. Mereka membutuhkan tekanan dari luar negeri agar konsumsi daging anjing menjadi isu nasional. DMFI pun mendapat dukungan organisasi internasional serta public figure seperti Sophia Latjuba, Chelsea Islan, Ricky Gervais, Peter Egan, Gamaliel Tapiheru, Sarah Sechan, Yeslin Wang, dan banyak selebriti baik di dalam dan luar negeri untuk menyuarakan kampanye mereka.

Berlangganan Viddsee

“Melalui DMFI, kami tak lagi fokus untuk melarang orang untuk makan apa atau tidak makan apa. Yang jadi fokus kami adalah menekan pemerintah untuk stop kerannya, stop perdagangan daging anjingnya,” kata Aya.

Pada 20 Juni 2019, Bupati Karanganyar, Pak Juliyatmono melarang penjualan daging anjing di daerahnya. Aya dan Karin berharap langkah ini dapat diikuti oleh pemerintah daerah lain di Indonesia.

Sudah Ilegal sejak sampai ke piring

Walau bukan menjadi daging yang umum dikonsumsi banyak orang, pernahkah terpikir di benak kita bagaimana olahan daging anjing hadir sampai di piring konsumen?

Film dokumenter ‘Asu (Prokontra)’ secara singkat memperlihatkan proses di balik penjagalan anjing untuk dimakan. Gambaran tersebut terasa begitu mengerikan karena imej anjing sendiri adalah sahabat manusia.

Kawanan anjing yang menunggu giliran dijagal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)
Kawanan anjing yang menunggu giliran dijagal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)

Aya menanggapi pertanyaan kami mengenai temuan pelanggaran dari investigasi yang dilakukan oleh DMFI sembari tersenyum getir, “Apa lagi yang dilanggar? Pertama, anjing bukan makanan, anjing bukan hewan ternak. Dari segi kesehatan anjingnya saja sudah dilanggar, apalagi segi kesehatan masyarakat.”

Ia menjelaskan lebih lanjut secara detail mengenai perdagangan daging anjing. Setiap harinya, ada puluhan ribu anjing yang diambil secara paksa dan dikumpulkan dalam satu tempat yang sama sebelum dijagal, “Dari mulai yang sakit, patah tulang, gak ada bentuk sampai yang sehat, semuanya jadi satu. Mulai dari pengepul sampai transportasi daging anjing, semuanya jadi satu dan membuat para anjing sangat menderita.”

Karena anjing bukan hewan ternak, tak pernah ada surat ijin khusus bagi tempat pemotongan daging ini. Aya membenarkan hal ini, bahkan menceritakan pengalamannya saat ada di lapangan. “Kami sering diusir saat sedang investigasi. Kalau memang ini hal yang seharusnya tidak dilarang atau tidak illegal, kenapa harus takut kalau direkam?” tanyanya gelisah.

Ancaman Rabies Outbreak di Indonesia

Kementerian Kesehatan mencatat laporan dari 22 provinsi atas 6.760 kasus gigitan hewan pembawa rabies pada Maret 2019. Penyakit ini sudah menjadi momok yang mendarah daging di masyarakat sehingga sering disebut penyakit anjing gila.

Tapi kalau rabies menular melalui gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, apakah virusnya sudah hilang dalam proses masak?

“WHO menyatakan kalau penyebab rabies terbesar itu datang dari transportasi anjing hidup untuk dipotong sebagai anjing konsumsi. Sejak kami investasi pada tahun 2013, kami sudah melihat rabies sebagai bom waktu. Makanya kami mulai berani untuk memperlihatkannya pada pemerintah. Kami merangkum penjabaran secara sederhana tapi detail, apa saja sih hubungan, pengaruh, dan ancaman konsumsi daging anjing untuk kesehatan nasional?”

Perdagangan daging anjing yang ilegal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)
Perdagangan daging anjing yang ilegal (sumber foto: Dog Meat Free Indonesia)

Dengan wajah yang sangat serius sembari memperbaiki letak kacamatanya, Aya menjelaskan secara detail mengenai ancaman rabies outbreak di Indonesia. “Jadi gini, kebanyakan anjing didapatkan secara ilegal dengan berbagai macam bentuk, besar kemungkinan ada rabies di situ. Setelah dikulitin, sisa kulit dan jeroannya dibuang gitu aja di got. Sementara di Indonesia kan banyak kucing liar berkeliaran, mungkin banget buat kucing-kucing itu makan sampah anjing yang dibuang tadi.”

Aya pun melanjutkan ceritanya sambil bergidik ngeri, “Amit-amit deh, kalo sampai kulit dan jeroan yang bisa jadi dari anjing rabies itu dimakan sama kucing, percaya deh….you don’t wanna see kucing rabies. Kucing yang kena rabies lebih parah daripada anjing rabies. Kayak zombie!”

Obat untuk menyembuhkan rabies belum ditemukan hingga saat ini. Walau hanya 7 persen populasi yang mengonsumsi daging anjing, penyebaran rabies yang dibantu oleh transportasi tak hanya mengancam 93 persen yang tidak memakan daging anjing, tapi juga seratus persen dari total penduduk Indonesia.

Aya menyayangkan semua pihak yang terlibat dalam perdagangan daging anjing ini, “Bukan cuma gak adil ke anjingnya, tapi juga ke orang-orang yang gak makan.”

Hewan peliharaan bukan pajangan!

Kawan-kawan yang terlibat dalam DMFI berharap bahwa pemerintah bisa segera melarang perdagangan daging anjing di Indonesia dan sangat terbuka untuk bekerjasama untuk mengawal dan mengedukasi masyarakat secara konsisten.

Namun konsumsi anjing hanya satu dari banyaknya masalah mengenai isu kesejahteraan hewan. JAAN sendiri fokus pada kesejahteraan hewan domestik dan satwa liar dan sering menemukan kasus hewan peliharaan yang disiksa dan ditelantarkan oleh pemiliknya.

Salah satunya adalah Toby, anjing pitbull berbulu hitam yang siang itu setia menemani sesi obrolan kami. “Waktu Toby diselamatkan, kondisinya sangat menyedihkan. Setelah melalui pengobatan dan makanan yang cukup, baru deh ketahuan kalau ternyata dia itu rasnya pitbull,” kata Aya sambil mengelus kepala Toby dengan penuh kasih sayang.

Karin lalu menimpali isu ini, “Kami juga ingin supaya ada aturan bagi para pemilik hewan yanng tak bertanggungjawab. Anjing mereka dilepas begitu aja dan mengganggu warga and that’s not nice. Tidak semua orang suka binatang dan kita harus menghargai itu. Jangan sampai warga sekitar jadi benci semua anjing hanya karena satu pemilik yang tak bertanggungjawab.”

JAAN berharap pemerintah dapat membuat aturan ketat terkait kepemilikan hewan. Dari banyak kasus yang mereka temukan, selain penyiksaan hewan secara fisik, banyak pula pemilik yang tidak sadar kalau mereka sedang menyiksa peliharaannya.

Potongan film dokumenter pendek Asu (Prokontra)
Potongan film dokumenter pendek Asu (Prokontra)

“Aturan yang sekarang begitu abu-abu karena hewan peliharaan sering dianggap sebagai barang properti milik individual sehingga ini menyulitkan bagi para rescuer saat mereka menerima laporan penyiksaan hewan peliharaan. Kami sering dianggap mencampuri urusan orang sehingga berpotensi untuk diadukan ke jalur hukum,” ujar Aya dengan raut wajah sedih sebelum kami mengakhiri obrolan kami siang itu.

Tak banyak yang menyadari bahwa keputusan untuk memiliki hewan peliharaan tak ubahnya seperti keputusan untuk memiliki anak. Karena setiap hewan peliharaan tak hanya berhak untuk mendapatkan rumah dan makanan, namun juga kasih sayang dan akses kesehatan. Hewan peliharaan bukan barang yang bisa dibuang begitu saja begitu mereka tak lagi dianggap lucu oleh pemiliknya.

Sungguh sebuah jalan yang begitu panjang bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara yang tak hanya memperhatikan kesejahteraan manusia, tapi juga hewan. Pertemuan dengan Aya dan Karin setidaknya memberikan suntikan semangat bagi kami bahwa masih ada masa depan bagi kemanusiaan.

Kunjungi situs resmi DogMeatFreeIndonesia.org untuk memberikan dukungan terhadap pelarangan daging anjing di Indonesia dan mari mulai melakukan perubahan nyata dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Baca juga: Putri Santoso, Pengusaha Tuli yang Punya Mimpi

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?