Kisah Unik Anti Merinding Cari Funding Produksi Film!

 

Cari Funding Untuk Produksi Film? Gak Susah Lagi Kok!

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Para pembuat film, baik pemula maupun yang sudah profesional, kerap kali menemukan hambatan dengan proses penting terkait pendanaan dalam sebuah kegiatan produksi. Terutama pembuat film pemula yang ingin berkarya namun seringnya malah terbentur biaya. Padahal di saat bersamaan, industri kreatif tengah berkembang pesat di era digital ini.

Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan dana produksi film di Indonesia. Ruang-ruang pendanaan produksi film seperti independent crowdfunding, program pendanaan film dari pemerintah, hingga private investor mulai menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Dalam rangkaian acara Viddsee Juree Indonesia 2019 yang diadakan pada Agustus lalu, topik ini dibahas dalam salah satu forum diskusi dengan tema “Anti Merinding Cari Funding”. Para panelis yang hadir adalah Coreen “Monster” Jimenez (Sutradara Filipina), Kenny Tan (Executive Producer Viddsee Studios) dan Agung Sentausa (Badan Perfilman Indonesia).

Mereka membagikan banyak pengalaman yang menginspirasi, serta tips dan informasi penting lainnya terkait pendanaan produksi film kepada para peserta diskusi. Bagi yang belum sempat hadir, jangan khawatir. Kami sudah merangkumnya buat kamu.

Coreen “Monster” Jimenez (Sutradara Filipina)

Sutradara dari Filipina, Coreen “Monster” Jimenez membuka diskusi dengan bercerita pengalaman pribadi di awal karirnya sebagai seorang sutradara. Passion yang ia miliki tidak pernah surut sejak awal. Beruntung memiliki tim yang sevisi, awalnya Monster dan teman-teman rela menjual barang pribadi demi pendanaan produksi film mereka.

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

“Waktu itu sekitar tahun 2005. Kala itu kami benar-benar tak punya uang, sampai harus menjual barang pribadi untuk menutupi kekurangan biaya produksi.” kenangnya.

Mengawali karir dengan memilih genre film dokumenter, baginya, mendokumentasikan hal-hal yang menyangkut tradisi atau kearifan lokal selalu memiliki nilai jual yang tinggi. Permintaan akan film-film dokumenter pada saat itu cukup tinggi dibandingkan film panjang.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak terjadi perubahan. Dipengaruhi oleh munculnya berbagai platform digital untuk menonton film yang terus memperbaharui produk mereka secara agresif. Alhasil, mereka menjadi sangat demanding akan konten-konten dari para pembuat film. Mereka tentunya sangat tertarik dengan para pembuat film pemula. Saat ini, mereka melirik hampir semua jenis konten.

Funding dari investor besar itu tanggung jawab besar!”

Masih terkait pengalaman pendanaan, Monster berbagi suka duka perihal pendanaan produksi film-filmnya. “Kalau kerjasama dengan investor besar, kita harus berusaha gimana caranya supaya balik modal. Itu tanggung jawab yang besar. Karena kalau dinilai tidak mampu, kamu tidak akan dipercaya lagi. Lain halnya kalau memperoleh dana dari funding,” ungkapnya.

Menurut Monster, banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah film memiliki daya tarik dan terbilang sukses di pasaran. Misalnya, kita bisa mengajukan pemeran-pemeran yang terkenal serta memiliki kualitas akting yang baik. Selain itu, rantai produksinya juga harus dipikirkan dengan benar. Salah satu faktor penting yang wajib dipertimbangkan dari awal adalah distribusi.

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Berkaitan dengan usaha-usaha tersebut, bagi Monster pengembangan kualitas karya juga tak kalah penting. “Sepanjang karir saya ini, saya menyadari pentingnya untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas dari karya yang akan saya buat. Terlebih lagi jika biaya produksinya minim. Yang saya coba lakukan adalah membuat sebuah film dengan budget seadanya, tanpa mengurangi kualitas filmnya,” katanya.

Monster juga berpendapat bahwa saat ini sangat banyak peluang bagi para pembuat film pemula untuk mendapatkan pendanaan di produksi film mereka. Terutama dari platform-platform digital yang sedang berkembang. Dengan catatan, karya yang diajukan merupakan sebuah karya yang berkualitas.

“Berdasarkan pengalaman saya bekerjasama dengan investor besar. Mereka tidak akan tanggung-tanggung untuk berinvestasi pada sebuah karya film yang memiliki kualitas bagus,” tegasnya. Kalimat yang sekaligus menutup cerita pengalaman Monster yang bisa menjadi pelajaran sekaligus penyemangat bagi para pembuat film pemula. Supaya mereka senantiasa bertumbuh serta menggali potensi untuk melahirkan karya terbaik.

Kenny Tan (Executive Producer Viddsee Studios)

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Melanjutkan diskusi seru ini, Kenny Tan (Executive Producer Viddsee Studios) menanggapi Monster dengan pernyataan serupa. Kenny setuju, bahwa era digital ini jelas memudahkan para pembuat film pemula. “Sangat menyenangkan menjadi seorang pembuat film di masa sekarang lho. Jika dibandingkan saat saya memulai karir dulu, apalagi di Singapura, semuanya serba mahal. Jaman sekarang, peralatannya lebih mudah diakses. Konten digital saja bisa diproduksi dengan jumlah banyak namun minim biaya”.

Ini menunjukkan tren yang baik. Ditambah lagi, Kenny melihat perkembangan dari para pembuat film, yang jumlahnya semakin meningkat. Mereka juga bekerja dengan passion yang luar biasa. Lantas ini menjadi alasan kuat baginya untuk bergabung di Viddsee Studios. “Bagi saya, adalah bagaimana saya bisa berkontribusi. Karena industrinya butuh didukung supaya mereka tetap berkarya,” tambahnya.

Selain menyelenggarakan Viddsee Juree, sebagai rangkaian acara sekaligus ajang perayaan yang turut mendukung film-film terbaik Asia. Kenny turut memaparkan beberapa informasi penting tentang Viddsee dan bagaimana kontribusinya kepada para pembuat film.

“Viddsee Studios hadir karena kami ingin membantu filmmaker!”

Pertama, melalui Viddsee Original. Ketika para pembuat film punya cerita dan mau ceritanya diproduksi, mereka bisa pitch idenya ke Viddsee. Dari situ, mereka bisa memperoleh program yang nantinya merupakan bantuan kepada para pembuat film untuk mewujudkan ide cerita mereka. Viddsee Original bukan hanya untuk film pendek, tapi juga serial.

Selanjutnya, melalui branded content. Cara bercerita dalam sebuah branded content akan sangat berbeda dengan iklan TV yang terlihat hard-sell. Bagi brand dengan target audience millennial, sesuatu yang hard-sell tidak akan mampu menarik perhatian mereka. Kenny juga berbagi pengalamannya ketika bekerjasama dengan klien.

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

“Setiap klien yang datang ke saya. Mereka bertanya, bisakah saya membuat sebuah cerita tentang brand mereka? Karena kita bekerja dengan para pencerita, jadi suara para pembuat film adalah sesuatu yang autentik. Menurut klien, ini bisa menjadi konten yang mampu membagikan emosi dan ekspresi dari beberapa brand. Berhubungan dengan prosesnya, beberapa pembuat film yang sudah submit karya mereka ke Viddsee, bisa langsung dilihat oleh para klien. Dari situ, klien bisa langsung melihat, mereka mau bekerjasama dengan pembuat film yang mana.”

Setelah pemilihan yang sudah dilakukan oleh klien, nantinya para pembuat film terpilih ini akan melakukan presentasi tentang ide cerita mereka. Yang sudah-sudah, Kenny melihat beberapa klien sangat humble menghadapi para pembuat film muda ini. Mereka melihat passion yang luar biasa.

Menurut Kenny, branded storytelling adalah cara yang baik untuk berlatih. Poin yang ia tekankan adalah berlatih, bagaimana para pembuat film pemula ini bisa bekerjasama dengan klien. Ini adalah kemampuan yang harus diasah, beda halnya kalau membuat film pendek sendiri. Kali ini, cerita yang dibuat harus bisa menyampaikan pesan yang dibawa oleh brand juga. Tantangan lain yang tak kalah menarik adalah bagaimana membuat sebuah cerita tentang brand, tanpa harus memperlihatkan produknya.

Selanjutnya Viddsee berkontribusi dengan melakukan co-production. Melalui co-production ini, Kenny menilai identitas dari cerita-cerita di Asia bisa semakin dikembangkan. Masyarakat menyukai cerita yang global tapi disampaikan secara universal. Mengaitkan dengan cerita autentik dari masing-masing daerah.

“Itu adalah hal-hal yang dilakukan Viddsee Studios. Kami selalu punya core untuk memajukan para pencerita. Semua proyek akan dikolaborasikan dengan para pembuat film Viddsee. Jadi, Jika ada cerita yang ingin dibagikan, kalian bisa bagikan kepada kami.” ungkapnya penuh semangat.

Kembali pada topik financing produksi sebuah film, Kenny tak lupa mengingatkan kepada yang hadir, bahwa dengan mengikuti Viddsee Juree, mereka pun bisa mendapatkan grant untuk produksi film mereka. Ia juga menutup pemaparannya dengan tak henti-hentinya memberi semangat kepada para pembuat film, “Yang terpenting, jangan menyerah! Tetap berkarya, pokoknya jangan berhenti buat film ya!”.

Agung Sentausa (Badan Perfilman Indonesia)

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Panelis terakhir yang tak kalah penting adalah Agung Sentausa (Badan Perfilman Indonesia). Agung menyampaikan bahwa dukungan kepada para pembuat film juga datang dari pemerintah. Pemerintah memiliki banyak program dan workshop yang kerap kali diadakan bagi para pembuat film. Genre-nya pun tak dibatasi, dari mulai dokumenter sampai fiksi. Film pendek hingga film panjang. Karena dari sudut pandang BPI, semua karya termasuk konten di ranah digital dapat menjadi kombinasi yang mampu menciptakan nilai ekonomi kreatif.

Berbicara tentang dunia perfilman di Indonesia. Agung menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya masih kekurangan sekolah film. Para pengajarnya juga kebanyakan bukan lulusan sekolah film. Mereka mendalami dunia film secara otodidak. Dihubungkan dengan financing produksi film di Indonesia. Menurut Agung, permintaan akan konten semakin bertambah, namun supply kontennya masih sangat kurang.

Keadaan lain yang sering terjadi saat ini adalah para pembuat film bioskop yang biasanya membuat film 1 judul dalam kurun waktu 3 tahun. Kini malah terbalik, mereka membuat 3 judul dalam waktu 1 tahun. Permasalahannya, sulit bagi mereka untuk menjaga kualitas filmnya. Situasi ini dirasa unik bagi Agung. Karena menurutnya, masalah sebenarnya bukan di pendanaan produksi film namun cara menegaskan kualitas diridan menetapkan tujuan utama sebagai seorang pembuat film.

“Sekarang adalah masa yang menguntungkan untuk jadi pembuat film!”

Seperti yang sudah disampaikan oleh para panelis sebelumnya. Agung sependapat bahwa para pembuat film saat ini sedang berada di waktu-waktu yang menguntungkan untuk menjadi seorang pembuat film. Sebab, dukungan datang dari berbagai pihak. Sebagai bukti, ia lalu menjelaskan progam yang sedang berjalan dari BPI.

Forum diskusi 'Anti Merinding Cari Funding' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Anti Merinding Cari Funding’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

“Yang sedang berjalan saat ini adalah Akatara. Utamanya, rangkaian acara ini adalah pitching forum dan matchmaking untuk proyek film Indonesia. Mempertemukan para pembuat film dengan para investor. Kita juga mengadakan market expo dan master class terkait kemampuan audio visual dalam membuat film. Supaya para pembuat film juga siap secara kemampuan, untuk membuat film yang bisa menarik minat investasi dari para investor tersebut.”

Agung mengungkapkan bahwa semua upaya ini dilakukan untuk menginisiasi dan memfasilitasi komunitas, institusi film, festival dan gelaran kebudayaan lainnya. Semoga bisa turut andil dalam pengembangan industri perfilman di tanah air.

Selanjutnya baca: 4 Langkah Pencegahan Pelecehan Seksual di Dunia Film

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?