4 Langkah Cegah Pelecehan Seksual di Dunia Film

 

Cegah pelecehan dan tindakan kekerasan seksual mulai sekarang!

Laporan investigatif yang dilakukan oleh New York Times terhadap Harvey Weinstein pada 2017 lalu menguak sisi gelap akan pelecehan seksual di industri film Hollywood. Sisi gelap yang sudah dialami dan diketahui banyak orang, namun hanya menjadi bisik-bisik belaka. Gerakan #MeToo pun lahir sebagai ruang bagi banyak korban untuk membagikan apa yang mereka alami.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh The Conversation menilai bahwa dampak #MeToo Indonesia masih dianggap lemah. Ketika perempuan di negara-negara lain berhasil menjatuhkan para lelaki berkuasa yang melecehkan mereka, di Indonesia, korban pelecehan masih harus berusaha untuk mencari keadilan.

Lihat saja kasus Agni, seorang penyintas kasus perkosaan yang kasusnya diabaikan oleh pihak universitas. Dan Agni tak sendiri, ada begitu banyak kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan yang hingga sampai detik ini belum terselesaikan.

Namun bukan berarti tak ada upaya untuk tetap menyuarakan pentingnya isu akan kasus kekerasan seksual.

Kasus Agni pun memicu gerakan lain yang dipelopori oleh tiga media di Indonesia: Tirto ID, Jakarta Post, dan VICE Indonesia. Gerakan yang dikenal sebagai Nama Baik Kampus ini merupakan kampanye dari seri laporan mendalam terkait dugaan kekerasan dan pelecehan seksual di perguruan tinggi di Tanah Air.

Para pegiat komunitas film Indonesia sendiri pun mengusung gerakan
#SinematikGakHarusToxic (selanjutnya disingkat SGHT) yang bertujuan untuk menghapuskan dan mencegah terulangnya tindak pelecehan dan atau kekerasan seksual yang kerap terjadi di lingkungan komunitas film maupun kegiatan perfilman, baik yang baru terjadi maupun yang sudah terjadi bertahun-tahun silam.

CYCN ss5

Rangkaian acara Viddsee Juree Indonesia yang telah berlangsung 8-10 Agustus 2019 lalu, membuka forum diskusi menarik terkait isu ini. Diskusi yang dilakukan di hari terakhir acara bertema ‘Calling YES, Catcalling NO’ menghadirkan Kamila Andini (sutradara Indonesia), Aulia Adam (Nama Baik Kampus), Albertus Wida (SGHT) untuk membicarakan mengenai lingkungan yang bebas dari pelecehan seksual di bidang produksi, edukasi, dan eksibisi film.

Bagi kamu yang kelewatan sesi diskusi ini, kami telah merangkumnya untukmu. Berikut adalah 4 poin utama dari sesi ‘Calling YES, Catcalling NO’:

  • Buka Ruang Pengaduan
  • Ciptakan Situasi (Ny)Aman
  • Prioritaskan Kebutuhan Penyintas
  • Sosialisasi dan Edukasi

Buka Ruang Pengaduan

Forum diskusi 'Calling YES, Catcalling NO' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Calling YES, Catcalling NO’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Hal yang paling sulit dilakukan oleh setiap penyintas adalah berbagi cerita mereka kepada sumber yang dapat dipercaya. Melalui Nama Baik Kampus, Aulia Adam menjelaskan bahwa mereka membuka ruang pengaduan bagi para korban yang ingin berbagi cerita.

“Kami membagikan form daring yang dapat diakses semua orang dan kami menjamin kerahasiaan setiap testimoni dengan terbuka, yang diizinkan untuk membaca hanya tujuh jurnalis,” ungkap pria ini lugas.

Hal serupa juga dilakukan oleh tim SGHT yang meluncurkan gerakan mereka bertepatan pada Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada 8 Maret 2019. “Setiap pelapor berhak untuk menggunakan identitas asli atau samaran, karena yang kami lakukan pada tahap ini adalah untuk memetakan pola serta modus dari tindak pelecehan yang terjadi di lingkar komunitas film dan kegiatan perfilman,” kata Albertus Wida yang akrab disapa Obe.

Ciptakan Situasi (Ny)Aman

Forum diskusi 'Calling YES, Catcalling NO' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Calling YES, Catcalling NO’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Jika ruang pengaduan menjadi satu hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pemetaan pola serta modus dari tidak pelecehan, langkah berikut yang harus dipastikan adalah pencegahan agar kejadian serupa tak terjadi lagi; di dalam lingkaran apa pun, perfilman maupun bukan.

“Memastikan setiap kegiatan perfilman dan acara komunitas film yang aman dan nyaman bukan hal yang mudah,” kata Obe, “Kami berharap ada aturan yang dapat dimulai dari setiap penyelenggaraan acara perfilman untuk membuat ruang aman ini sesegera mungkin, misalnya panitia khusus sehingga ketika dicurigai ada kejadian pelecehan dan kekerasan bisa diselesaikan sesegera mungkin.”

Sebagai sutradara perempuan yang kerap bekerja di lingkup produksi yang didominasi oleh laki-laki, Kamila Andini sendiri menerapkan aturan khusus. “Kami membuat kontrak khusus bagi setiap orang yang terlibat yang mengikat untuk mencegah kasus pelecehan dan kekerasan seksual dalam produksi film.”

Langkah yang diambil oleh Kamila Andini ini menegaskan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual semestinya tidak boleh terjadi dalam kegiatan perfilman apa pun.

Prioritaskan Kebutuhan Penyintas

Forum diskusi 'Calling YES, Catcalling NO' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Calling YES, Catcalling NO’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Peliknya penyelesaian kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di Tanah Air kerap menyematkan stigma buruk bagi pada penyintas. Hal ini diakui oleh Aulia Adam, “Dari data yang kami dapatkan terdapat 174 penyintas dari 79 kampus di 29 kota. Namun masih banyak suara yang belum terdengar karena rasa takut. Hukum di negara kita sayangnya belum berpihak pada korban.”

Hal ini diamini oleh Kamila Andini, “Yang harus dipahami dari kasus pelecehan dan kekerasan adalah bentuk pemaksaan kuasa atas orang lain. Ketika seorang penyintas berani untuk bercerita tidak hanya harus diapresiasi tapi juga jadi prioritas.”

Obe sendiri mengakui bahwa di tahap ini SGHT hanya akan menindaklanjuti pengaduan yang masuk ke Komnas Perempuan dan lembaga layanan lain hanya jika pelapor menghendaki, “Kami harus memprioritaskan kebutuhan setiap penyintas; apa yang sebetulnya mereka inginkan dan hendaki, itu yang harus kita hormati.”

Sosialisasi dan Edukasi

Forum diskusi 'Calling YES, Catcalling NO' di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Calling YES, Catcalling NO’ di Viddsee Juree Indonesia 2019

Segala langkah yang telah ditempuh baik oleh Kamila Andini, Nama Baik Kampus dan #SinematikGakHarusToxic baik dalam mencegah, memetakan pola dan modus serta tindaklanjut laporan akan terasa sia-sia jika kampanye yang mereka usung tak diketahui oleh banyak orang. Sosialisasi dan edukasi menjadi langkah yang tak kalah pentingnya agar isu yang diusung tak mati di tengah jalan.

“Penting untuk lebih banyak orang dari segala lapisan untuk ikut terlibat, setidaknya membantu penyebaran informasi dan menerapkannya ke dalam lingkaran masing-masing,” tekan Aulia Adam.

Hal serupa juga sedang dilakukan oleh tim SGHT, “Kami membuka ruang diskusi sebesar-besarnya pada komunitas film yang ingin berkonsultasi untuk rencana kongkrit untuk mencegah terjadinya tindak pelecehan dan kekerasan seksual dalam lingkungan mereka.”

Kamila Andini pun menutup sesi diskusi dengan lugas, “Penting bagi semua orang terlibat untuk memastikan dunia perfilman yang sangat kita cintai ini bebas dari dari pelecehan seksual di bidang apapun; entah itu produksi, edukasi, atau eksibisi film.”

Jika kamu menemukan kasus pelecehan dan kekerasan dalam komunitas filmmu, kamu dapat melaporkannya di tautan ini.

Selanjutnya, baca: 4 Tips Bikin Film Fantastic Genre di Indonesia!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?