“Film Adalah Cara Saya Memahami Manusia” – BW Purba Negara

 
BW-Purba-Negara-6.jpg
BW Purba Negara sedang mengarahkan pemain di ‘Ziarah’. (Sumber Gambar: Film Ziarah)

Film-film pendek BW Purba Negara telah memenangkan berbagai penghargaan di festival nasional dan internasional. Dua belas tahun sejak berkecimpung di film pendek, BW akhirnya menyutradarai film panjang pertamanya, ‘Ziarah’.

Bagi pria yang akrab dipanggil BW ini, film memiliki kekuatan untuk menangkap emosi, perasaan, dan persoalan yang melibatkan manusia bisa merangsang emosi penonton. Dengan caranya sendiri, film adalah caranya memahami manusia.

“Memahami manusia adalah sumber energi kreatif terbesar saya,” ungkap BW serius.

Kami berbincang dengan pria yang hobi mengoleksi suling ini mengenai inspirasi dan filosofinya dalam berkarya.

#1 – Melatih melihat sebuah isu dari beragam perspektif

BW-Purba-Negara-2.jpg
Proses syuting ‘Ziarah’ (Sumber Gambar: BW Purba Negara)

Perjalanan BW sebagai pembuat film dimulai saat menyutradarai pertunjukan teater di SMA. Ia lalu melanjutkan pendidikannya di Fakultas Filsafat UGM, namun kecintaannya pada film terus berlanjut. Teknis pembuatan film ia pelajari dari banyak komunitas film yang tumbuh subur di Jogjakarta sejak lulus SMA di tahun 2001, salah satunya Fourcolours Films.

Latar belakangnya di Filsafat pun membuatnya memahami banyak wacana dari beragam sudut pandang. Misalnya pada isu disabilitas dari sudut pandang yang berbeda. Bagi BW, kaum disabilitas tak harus dihadirkan sebagai kaum yang minor dan terpinggirkan. “Cara mereka mengakses dunia itu berbeda dari kita, tapi bukan berarti mereka harus ada di posisi yang menimbulkan simpati,” jelasnya lugas.

“Saya tidak ingin sekedar jatuh pada eksplorasi karakter yang eksotis, tapi ingin melihat mereka dari perspektif yang berbeda. Filsafat melatih saya melihat cara pandang yang berbeda-beda sampai menemukan perspektif yang paling tepat.”

#2 – ‘Ziarah’ dan pentingnya untuk merdeka

BW-Purba-Negara-3.jpg
Salah satu cuplikan dari film ‘Ziarah’ (Sumber Gambar: JAFF)

Nekat mungkin adalah deskripsi yang tepat untuk ‘Ziarah’, proyek film panjang pertama BW. ‘Ziarah’ adalah sebuah kisah cinta yang tak biasa dari sudut pandang Mbah Sri, seorang nenek yang mencari makam suaminya yang hilang. Alasannya sederhana, karena beliau ingin dimakamkan di sebelah makam suami tercinta.

“Saya dan teman-teman meyakini bahwa energi terbesar dalam membuat karya yang bagus adalah kemerdekaan. ‘Ziarah’ adalah cara kami memperjuangkan hal tersebut.”

‘Ziarah’ memang dibuat dengan budget yang minimalis, namun BW yakin bahwa kemerdekaan membuka ruang untuk bertutur secara lebih otentik tanpa ada campur tangan pihak lain. Ia tak menampik bahwa suatu saat bisa bekerja dengan skema modal yang lebih besar, tapi penting baginya untuk bergerilya di film panjang pertamanya.

#3 – Pengalaman dan kerut wajah adalah bukti sejarah paling otentik

BW-Purba-Negara-5.jpg
Mbah Sri dalam pencarian makam suaminya (Sumber Gambar: Film Ziarah)

‘Ziarah’ mengulas kaitan antara Indonesia dengan sejarah, masa perang kemerdekaan, pemaknaan atas tanah, serta kematian. Motivasi BW untuk membuat film mengenai kehidupan dan kematian datang dari pengalaman pribadinya sebagai sukarelawan bencana Tsunami Aceh pada tahun 2004.

“Pemeran utama film ini adalah mbah Sri yang hidup di jaman sekarang dan pernah mengalami masa perang. Usianya harus sangat tua. Saya tidak menemukan aktris yang berusia setua itu dan juga tidak memiliki teknologi untuk membuat yang muda terlihat tua,” ungkapnya saat ditanya mengenai pilihan pemeran di ‘Ziarah’.

Tokoh utama dalam ‘Ziarah’ diperankan oleh mbah Ponco Sutiyem, seorang nenek berusia 95 tahun dari Ngawen, Gunung Kidul. BW sengaja memilih mbah Ponco yang belum pernah berakting dengan alasan otentisitas dan alami agar ceritanya dapat dipercaya.

Di usia senjanya, mbah Ponco tetap bugar dan bersemangat mengikuti proses syuting. Pengalaman hidup beliau pun memiliki kemiripan dengan tokoh yang diperankan. Di masa pendudukan Belanda, suaminya ditangkap dan rumah mereka dihujani tembakan. Dalam keadaan hamil, beliau berlari dan berhasil menyelamatkan diri.

Walau mengambil pendekatan sejarah personal, kisah mbah Sri ini membuka banyak kesempatan untuk membicarakan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sejatinya, perang selalu membawa luka, apalagi bagi warga biasa. Di masa sekarang, mereka telah menua dengan trauma dan kenangan akan perang tersebut. Lewat ‘Ziarah’, BW ingin mengajak para penonton untuk berdamai dengan masa lalu karena hidup terus berjalan.

#4 – Festival SalaMindanaw membuka ruang lebih luas untuk berdiskusi

BW-Purba-Negara-1.jpg
“Memahami manusia adalah sumber energi kreatif terbesar saya.” (Sumber Gambar: BW Purba Negara)

‘Ziarah’ memenangkan penghargaan Film Terbaik di SalaMindanaw Asian Film Festival 2016. Raya Martin memuji film ini sebagai sebuah kisah yang kuat dengan pendekatan yang sederhana.

“Suasana kekeluargaan disana begitu luar biasa! Festival ini jauh dari kata glamor dan mewah. SalaMindanaw adalah festival paling intim yang pernah saya hadiri.”

Menariknya lagi, sesi diskusi informal yang ada di festival ini memungkinkan baginya untuk berbincang dengan para sutradara dan kritikus film mengenai wacana-wacana yang sedang berkembang, salah satunya kecenderungan pembuat film di Asia Tenggara untuk membuat film dengan cara pandang dan cita rasa Eropa dengan tujuan agar film mereka diterima disana.

Isu-isu Dunia Ketiga, seperti kemiskinan atau politik memang selalu seksi di mata publik Eropa.
Kecenderungan yang disebut oleh BW sebagai ‘Sindrom Eropa-sentris’ ini menjadi berbahaya ketika isu-isu ini terus menerus direplikasi dan membuat orang lain berpikir bahwa film yang bagus adalah dengan cara bagaimana Barat memandang Timur.

“Jadi bukannya melihat Asia dengan cara pandang Asia, tapi melihat Asia dari cara pandang orang Eropa agar bisa diterima di Eropa. Cara pandang seperti ini rasa-rasanya berbahaya dan hal ini menggelisahkan bagi saya. Kita jadi kehilangan cara pandang kita yang begitu beragam, khas dan unik.”

#5 – ‘Aku Serius’, cara segar untuk menertawakan diri sendiri

BW-Purba-Negara-4.jpg
Suasana di balik syuting ‘Aku Serius’ (Sumber Gambar: BW Purba Negara)

“Di ‘Ziarah’ itu kan sebagian besar orangnya tua. Saya ingin menetralisir suasana, karena saya kan gak tua-tua amat. Akhirnya saya membuat ‘Aku Serius’ untuk refreshing,” ujarnya sambil tertawa.

‘Aku Serius’ berbeda dengan karya BW yang lain karena isu yang diangkat cenderung kekinian dan populer tentang bagaimana anak muda menggunakan media sosial untuk mengkonstruksi dan merekayasa kenyataan.

Lewat film ini, BW menertawakan logika media, termasuk media sosial, “Saya ingin mengajak penonton menertawakan bagaimana kita bersosial media, bagaimana kita sibuk mengemas diri biar tampak keren di media sosial, padahal palsu. Kita semua kan seperti itu, rasanya penting untuk menertawakan diri sendiri.”

Tonton ‘Digdaya Ing Bebaya’ arahan BW Purba Negara di Viddsee selanjutnya!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?