Inilah Film Sci-Fi Kocak Dengan Budaya Lokal Indonesia!

 

Bikin Sci-fi mahal dan susah? Siapa bilang?

Film dengan genre fiksi ilmiah atau “sci-fi”, merupakan bentuk fiksi spekulatif yang utamanya membahas mengenai pengaruh ilmu sains serta teknologi yang diimajinasikan penerapannya terhadap kehidupan masyarakat dan individual. Genre ini tidak pernah memiliki batasan yang jelas sehingga garis antar sub-genre pun tidak tetap.

Karena melibatkan imajinasi yang tak terbatas, umumnya film sci-fi akan merepresentasikan sesuatu yang futuristik dalam hal teknologi. Realitanya, kemajuan teknologi akan melulu terkait dengan nilai material yang tidak sedikit. Begitu pun dalam hal merealisasikan fiksi ilmiah yang identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan dalam sebuah film. Sehingga banyak yang terjebak dalam stereotip bahwa membuat sebuah film genre sci-fi itu pasti membutuhkan biaya yang besar.

Seorang pemuda bernama M. Marhawi kemudian memproduksi sebuah film pendek genre sci-fi komedi yang meleburkan unsur kebudayaan lokal. Film ini berhasil menarik perhatian penonton, bahkan seorang blogger/editor Amerika, Neil Worcester menulis review tentang film ini. Neil menyebut bahwa film pendek ber-genre sci-fi yang dibuat oleh Marhawi memiliki idiosyncrasies atau unsur keistimewaan dari film-film Wes Andersen.

Tonton ‘Mars (Don’t Pee Randomly)’ arahan M. Marhawi (Indonesia) sekarang!

Berlangganan Viddsee

Hal ini cukup mendobrak konsepsi kaku mengenai pembuatan film sci-fi itu butuh budget besar. Seperti pembahasan dalam diskusi film fantastik di rangkaian acara Viddsee Juree Indonesia yang diangkat beberapa waktu lalu. Ini adalah contoh riil dari jawaban para panelis akan pertanyaan pemantik dalam diskusi tersebut. Bahwa membuat film sci-fi itu sangat bisa mengandalkan ide dan konsep cerita. Justru karena ini merupakan genre yang tidak memiliki batasan, maka bermainlah dengan imajinasi yang tak terbatas untuk menciptakan trik supaya filmnya menarik.

Lantas, apa sih istimewanya film ‘Mars’ ini sehingga bisa disebut memiliki unsur unik nan menarik serta memiliki visual yang khas? Hal ini memicu rasa penasaran tim editorial Viddsee untuk menggali informasi dari sang filmmaker. Mengapa ia berani mengusung genre ini? Bagaimanakah proses yang berlangsung dibalik layar?

Dengan senang hati, Awik berbagi cerita kepada kami.

Apa inspirasi awal yang membuat kamu ingin memproduksi film ini?

Proses dibalik produksi film Mars (Sumber foto : M.Marhawi)
Proses dibalik produksi film Mars (Sumber foto : M.Marhawi)

Inspirasi awal adalah ketika mengikuti kelas sejarah film dan editing di kampus. Di situ saya menonton ‘A Trip To The Moon’ karya George Melies. Jika di-breakdown ada kesamaan cerita antara film ‘Mars’ dan ‘A Trip To The Moon’.

Selain itu, terinspirasi artikel-artikel ilmiah yang menyatakan bahwa Mars bisa dihuni manusia. Hal ini membuat saya membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Dihubungkan dengan kenangan masa kecil, dulu waktu SD saya suka mengikuti study tour dari sekolah. Kegiatannya beragam, dari mulai membuat tempe dan tahu, memerah susu di peternakan sapi, sampai ke museum pengetahuan alam. Lalu munculah pemikiran, berarti bisa dong suatu saat nanti anak sekolah study tour-nya ke Mars.

Apa tanggapan kamu mengenai stereotip bahwa biaya produksi film Sci-fi itu mahal?

Saya bahkan ngga tahu kalau bikin sci-fi itu mahal. Waktu itu saya berpikirnya produksi film Mars, karena genre ini banyak yang suka.

‘Mars Don’t Pee Randomly’ bergenre Sci-fi comedy, merupakan genre yang jarang diangkat dan dieksekusi di ranah film pendek. Apa yang membuatmu berani mengusung genre ini?

Saya suka sesuatu yang beda dengan yang lain, haha. Saya selalu memperhatikan yang umum terjadi, lalu saya buat sesuatu yang berbeda. Sama halnya ketika membuat film ini. Di antara banyak film drama di lingkungan kampus waktu itu, saya dengan angkuh bilang mau buat Sci-fi. Tapi ngomong kayak gitu memang harus punya ide dasar dulu dan waktu itu sudah ada di kepala. Setelah itu, saya kira akan jadi angin lalu. Eh, teman-teman malah mendukung. Sebenarnya pada waktu itu juga ngga tahu gimana jalannya buat Sci-fi. Cuma modal pengen dan biar keren di lingkungan kampus. Jadi, ya udah berani-berani aja.

Bagaimana proses yang dilalui selama memproduksi film ini?

Proses dibalik produksi film Mars (sumber foto : M. Marhawi)
Proses dibalik produksi film Mars (Sumber foto : M. Marhawi)

Proses pembuatan film ‘Mars’ kurang lebih berjalan selama 2 tahun. Berawal dari isu tentang Mars hingga menjadi premis, dari premis jadi sinopsis. Setelah itu, cerita ini saya simpan hingga setahun lamanya.

Di tengah prosesnya, ide cerita Mars ini sempat mengikuti program pitching yang diadakan perusahaan provider swasta XL dan situs crowdfunding Wujudkan.com. Terpilihlah ide cerita film ini. Waktu itu juri dan foundernya adalah Mbak Mandy Marahimin, jadi saya mengucapkan terima kasih banyak buat Mbak Mandy dan Wujudkan.com.

Sampai akhirnya terpilih dan mendapat dana tambahan. Setelah itu, bertepatan dengan adanya kesempatan membuat film untuk tugas kampus. Saya mengajak beberapa teman untuk join. Mereka pun menyukai cerita unik ini dan bersemangat untuk bergabung. Lalu, ide ini saya daftarkan sebagai tugas film. Dari situ banyak masukan dari dosen dan teman-teman. Masukan dari mereka membuat cerita dari film ini menjadi lebih komplit. Selanjutnya, film ‘Mars’ diproduksi dengan kapasitas dana dan SDM yang seadanya.

Apa saja kendala selama proses produksi?

Proses dibalik produksi film Mars (Sumber foto: M. Marhawi)
Proses dibalik produksi film Mars (Sumber foto: M. Marhawi)

Pertama, kendalanya adalah men-direct anak kecil yang moody dan harus meluangkan perhatian kepada pemain yang masih anak-anak ini, supaya mood-nya selalu terjaga.

Kedua, lokasi syuting film mars yang berada di Grand Canyon yang merupakan pertambangan batu aktif. Hal ini mengakibatkan tampilan area lokasi tidak menentu. Misalnya, pada saat kami cek lokasi, awalnya banyak spot bagus. Namun mendekati hari syuting, banyak lokasi yang sudah dikeruk. Bahkan ada satu bukit yang hilang karna diambil oleh penambang.

Kenapa memilih unsur komedi yang menjadi kombinasi dari genre Sci-fi dalam film pendekmu kali ini?

M. Marhawi, sutradara film pendek Indonesia (sumber foto: M. Marhawi)
M. Marhawi, sutradara film pendek Indonesia (sumber foto: M. Marhawi)

Sejujurnya saya adalah orang yang suka bercanda, begitu pun dengan kru film ‘Mars’. Mereka juga sebagian memang pandai bercanda. Jadi film ini menjadi komedi karena para pembuatnya. Menurut saya ini baik dengan menambahkan unsur komedi. Film ‘Mars’ yang harusnya serius, malah menjadi film yang memiliki kualitas humor yang baik. Menertawakan bersama sesuatu yang dianggap masih isu, yaitu Mars dapat dihuni manusia, itu sangat menyenangkan.

Ada penjual getuk, musik dangdut, bahasa Jawa serta elemen-elemen lokal lainnya. Apa motif kamu memasukkan unsur-unsur lokal tersebut?

Pembuat film yang baik menurut saya adalah mereka yang tahu betul daerahnya dan mengangkat kearifan lokal dari setiap daerah. Karena film bukan hanya sebuah tontonan kosong. Akan lebih baik jika ada pertukaran informasi di dalamnya. Saya belajar banyak hal di film. Seperti budaya dan kebiasaan orang dari berbagai daerah dan negara. Itu karena filmmaker-nya mau mengangkat hal tersebut. Saya juga mau penonton film saya mendapatkan hal serupa.

‘Mars Don’t Pee Randomly’ pernah mendapat review dari blogger/editor Amerika, Neil Worcester. Ia menyebut film pendekmu ini memiliki idiosyncrasies atau unsur keistimewaan dari film-film Wes Andersen. Apa tanggapanmu mengenai hal itu? Apa benar kamu terinspirasi oleh Wes Andersen?

Kalau dibilang terinspirasi sih nggak ya. Tapi kalo dibilang suka sama film-filmnya dia sih iya, hehe.

Karena film Wes Andersen itu harus imbang ya secara visual dari awal hingga akhir, saya kesusahan dalam hal itu. Imbang secara visual di sini kan banyak, kayak komposisi, warna yang seimbang kanan-kiri.

Kalau terismpirasi Wes Andersen, kayaknya nggak. Tapi di film ini, saya cukup memperhatikan keseimbangan itu tadi. Pokoknya ilmu seni rupa coba saya terapkan. Mungkin hal itu yang tidak sengaja membuat saya jadi agak ke-Wes Andersen-an. Padahal ya nggak.

Selanjutnya baca: B Movie Indonesia Jaya Kembali? Ini Mimpi Azzam Fi Rullah!

 

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?