Intip Serunya Perjalanan Rein Maychaelson ke Los Angeles!

 
Rein Maychaelson, sutradara muda berbakat Indonesia (sumber foto: Rein Maychaelson)
Rein Maychaelson, sutradara muda berbakat Indonesia (sumber foto: Rein Maychaelson)

Salah satu hal yang paling menyenangkan dari memenangkan Gold Award di Viddsee Juree adalah mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Los Angeles untuk menghadiri Kursus 5-hari Program Film & TV Global dari Motion Picture Association (MPA). Program ini meliputi ekosistem industri film Hollywood; mulai dari cara pitching, bertemu dengan produser, distributor, serta calon investor, hingga seluk beluk pembuatan film independen. Ada pula sejumlah sesi di sisi bisnis industri film seperti aspek hukum dan hak cipta, pendanaan, dan film market dan sirkuit festival film.

Berkat film ‘Errorist of Seasons’, Rein Maychaelson pun berkesempatan untuk mengunjungi Hollywood untuk belajar seluk beluk industri film terbesar di duna ini. Ditemui di tengah kesibukannya syuting film pendek terbarunya, ‘Living Elvis’ di Studio Persari, Rein dengan semangat menjabarkan pengalamannya.

Apa sih yang kamu persiapkan sebelum berangkat ke LA?

Rein: Tentunya paspor dan visa ya, hahaha. Tapi serius nih, kalau bisa sih lo mempersiapkan ide proyek film panjang. Sebelum berangkat, lo akan ditawarin untuk memilih Paket A, B stau C yang intinya akan ada sesi pitching di film market atau dibikinin janji untuk ketemu sama produser, investor, dan distributor Hollywood.

Sayangnya gue memang belum punya ide film panjang. Yang gue bawa saat itu adalah ide film ‘Living Elvis’, tapi waktu itu juga masih mentah. Sayangnya, ini ide film pendek, sementara film pendek disana tuh belum ada ruangnya.

Apa yang paling membuatmu kaget saat mengikuti program lima harı ini?

Salah satu sesi di kursus lima-hari yang diikuti Rein (sumber foto: Rein Maychaelson)
Salah satu sesi di kursus lima-hari yang diikuti Rein (sumber foto: Rein Maychaelson)

Rein: Buat gue itu soal film market sih. Karena ini kan merupakan sesuatu yang masih asing banget buat gue. Dan karena gue gak ada ide proyek film panjang, gue gak ikutan paket pitching itu. Tapi seru banget karena ada sesi untuk ketemu sama lembaga-lembaga kayak Directors Guild of America dan belajar tentang copyrights.

Oh iya, gue juga berkesempatan buat ketemu salah satu produser film 500 Days of Summer. Jadi gue share ke dia soal proyek film pendek gue deh. Responnya menarik dan ngasih gue perspektif baru untuk ide ‘Living Elvis’ ini.

Kamu berangkat bersama dua pemenang Juree dari Singapura dan Filipina. Bagaimana kesannya?

Rein: Kami lumayan ngobrol banyak soal lanskap industri film di negara masing-masing, terutama soal perbedaannya dengan Hollywood. Kami sadar banget kalau cara bercerita kita sama Hollywood itu beda banget. Dan kesannya gimana gitu ya, kita yang dari Negara Dunia Ketiga dateng Hollywood yang prestisius…tapi balik dari LA malah bikin gue bangga sih.

Tonton ‘Errorist of Seasons’, film pendek yang menang Viddsee Juree Awards Indonesia 2018 disini!

Karena gue jadi sadar banget kalau Indonesia tuh masih punya banyak otentisitas. Sementara di Hollywood kan kekurangan cerita yang orisinal. Yah, walau buat mereka gak ada tuh ide yang bener-bener orisinal, tapi seenggaknya kita tuh beda. Indonesia mash punya banyak identitas yang belum terjamah.

Rein bersama peserta dari negara lain Salah satu sesi di kursus lima-hari yang diikuti Rein (sumber foto: Rein Maychaelson)
Rein bersama peserta dari negara lain Salah satu sesi di kursus lima-hari yang diikuti Rein (sumber foto: Rein Maychaelson)

Ada banyak informasi dari kedua teman baru gue itu tentang lanskap negara masing-masing. Misalnya di Singapura itu kalau syuting film, krunya mahal. Makanya mereka ngiri banget sama Indonesia yang pasarnya besar tapi sumber daya manusianya murah, hehehe.

Sementara kalau di Filipina lebih ke soal kondisi politik mereka. Kan ada hukuman ditembak mati di tempat ya kalau lo itu pengedar narkoba. Polisinya brutal banget, jadi mengingatkan gue zaman Orba ketika petrus (— penembakan misterius) merajalela.

Mengingat kursusnya hanya lima hari, bagaimana caranya kamu memamah semua informasi yang datang?

Rein: Gue bikin prioritas sih sejak awal, mana yang pengen banget atau belum pernah gue pelajari. Mungkin karena waktu kuliah film dulu, kebanyakan dosen gut kan kiblatnya lebih ke festival-festival film di Eropa ya, jadi gue beruntung karena sekarang gue dapet pengetahuan dari sumber yang berbeda. Istilahnya, cover both side gitu.

Informasi apa saja yang kamu dapat selama di Los Angeles?

Rein: Banyak banget, terutama soll ekosistem industri film Hollywood. Tapi yang menurut gue paling berguna adalah pengetahuan soal Intellectual Property (IP). Mau film lo menang di festival bergengsi tapi kalo gak ada IP ya sama aja bohong. Gak ada yang bisa “dijual”, gak jadi “industri” juga.

Pengetahuan baru ini semakin menegaskan soal apa yang ingin gue lakukan di masa yang akan datang.

Emangnya apa yang ingin kamu lakukan ?

Beverly Hills, Los Angeles (sumber foto: Rein Maychaelson)
Beverly Hills, Los Angeles (sumber foto: Rein Maychaelson)

Rein: Di satu sisi, gue gak mau terus-terusan bikin film arthouse dengan pace lamban yang penontonnya terbatas. Gue pengen bikin film yang bisa dinikmati sama penonton yang lebih luas.

Saat ini kan gue lagi jalan sama Rubamera Creative Lab. Kenapa bukan production house? Karena kalau jadi PH, ya jalurnya akan sama aja; lo bikin film panjang, kesempatannya 50:50 saat tayang di bioskop. Kalo gagal ya rugi, kalo untung ya nama lo naik. Atau lo bikin iklan.

Tapi gue bosen aja ama jalur kayak gini, kayak gak ada eksplorasi. Oke, gue bisa nyari uang dengan bikin iklan, tapi mau sampai kapan? Gue kan gak selamanya punya energi dan kreatifitas untuk melakukan itu.

Perjalanan gue ke Los Angeles dan mengikuti kursus lima-hari dari MPA mengkonfirmasi pikiran gue. Yang pengen gue eksplorasi sekarang ya soal Intellectual Property.

Misalnya kayak gimana?

Rein: Studi kasus dari ‘Living Elvis’ deh. Misalnya gini, biasanya begitu naskah sudah dikunci kan langsung bikin breakdown buat syuting. Kalau sekarang, gue dan tim gue lalu memetakan item-item apa yang bisa jadi ikonik buat potensi IP itu. Pemetaan ini gak akan ngubah cerita, tapi ada pertemuan khusus untuk menemukan ikon-ikon yang mudah diingat orang. Kalau gak ada, apakah ada substitusi yang serupa dan bisa ikonik?

Bareng Rubamera, gue jadi sadar ada kepentingan untuk film ini bisa ditonton dan dicerna sama penonton yang lebih banyak lagi. Jadi ada waktu lebih lama untuk mengembangkan ide dari hulu ke hilir lewat banyak meeting.

Walau jadi lebih pusing karena nambah beban pikiran selain nyari dana produksi, tapi gue sangat menikmati proses yang seperti ini.

Film-film pendekmu sudah menang di berbagai festival baik itu nasional maupun internasional. Selanjutnya apa?

Melihat Hollywood dari dekat (sumber foto: Rein Maychaelson)
Melihat Hollywood dari dekat (sumber foto: Rein Maychaelson)

Rein: Gue selalu ditanya kapan akan bikin film panjang pertama, yang nawarin untuk bikin pun sudah ada. Walau ini menggiurkan, tapi gue tolak. Karena pertanyaannya bukan kapan tapi apa dampak film panjang pertama ini ke dalam hidup lo?

Sekarang kalau kita liat film-film yang tayang di bioskop kan didominasi sama film remaja, cinta, atau komedi. Di satu sisi, mungkin mudah untuk meraup untung dari film-film bertema ini, tapi kok rasanya jadi template ya?

Gue gak bilang ini salah sih, tapi gue jadi mikir panjang. Apa iya harus gue yang bikin film-film seperti itu? Kan udah banyak sutradara yang bisa bikin itu, bahkan lebih berpengalaman dari gue. Jadi gue balik lagi pertanyaan itu ke diri gue sendiri, apa tujuannya gue bikin film panjang?

Cinta Samuel Rustandi akan Keberagaman Budaya dan Kuliner di Indonesia

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?