Kenalan sama Imam Syafi’i, Finalis Juree ID 2019 Lewat ‘Merged With The Ground’!

 

Imam Syafi’i ingin berdakwah melalui film demi membanggakan orangtuanya

Imam Syafii

Imam Syafi’i adalah seorang sutradara kelahiran Klaten yang menempuh pendidikan di Fakultas FFTV Institut Kesenian Jakarta. Imam sendiri tak asing dengan Juree, mengingat karya yang berjudul ‘LILAKNO’ menjadi salah satu finalis tahun lalu. Tahun ini ia kembali dengan ‘Merged With The Ground’ yang pernah meraih nominasi di Piala Citra 2018 kategori Film Fiksi Pendek Terbaik.

Apa yang membuatmu memutuskan untuk menjadi sutradara?

Imam: Saya ingin menyalurkan rasa yang ada di dalam jiwa saya kepada orang banyak dengan media yang tidak kalah mengasyikkan, yaitu film. Lewat film, saya dapat menangkap energi yang ada di sekeliling saya, serta kejadian aneh dan menarik yang belum tentu dialami orang lain. Pada dasarnya, saya menjadi sutradara karena ingin berbagi pengalaman tentang pemikiran dan rasa terhadap isu yang terjadi di sekitar saya.”

“Perasaan tersebut membuat saya merasa gelisah jika tidak saya bagikan melalui film.”

Apa inspirasi di balik film ‘Merged With The Ground’?

Proses dibalik produksi film Merged With The Ground (sumber: Imam Syafi'i)
Proses dibalik produksi film Merged With The Ground (sumber: Imam Syafi’i)

Imam: Awalnya cerita ini akan diproduksi untuk dokumenter, kebetulan ritual topo pendem dilakukan oleh salah satu tetangga saya. Ritual ini cukup unik, saya sendiri sering diceritakan tentang kejadian aneh dalam hidupnya, seperti kehidupan yang ia jalani saat bertapa di dalam tanah. Cerita ini kemudian saya kembangkan melalui medium fiksi, terutama ketika salah satu kru saya meninggal dunia pada saat pra produksi dan saya rindu sekali padanya. Proses ini berjalan selama 1,5 tahun sehingga melahirkan karakter dan plot yang saya imajinasikan.

Tonton Merged With The Ground (Topo Pendem) arahan Imam Syafi’i (Indonesia) sekarang!

 

Boleh diceritakan sedikit tentang tim yang terlibat dalam film ini?

Imam: Sebagai bentuk riset, saya merasakan atmosfir bertapa di dalam tanah dan dikubur hidup-hidup selama 2 jam pada malam Selasa Kliwon. Jujur, saya sendiri tidak berani, sehingga akhirnya salah satu teman saya menggantikan. Hasil dari pertapaan tersebut menjadikan film ini siap untuk digarap. Sayang sekali salah satu kawan meninggal dunia sehingga kami harus menunda jadwal syuting. Saya pun mengubah cerita yang awalnya dokumenter tentang ritual topo pendem menjadi fiksi sebagai wujud apresiasi dan penghormatan saya terhadap almarhum kawan.

“Kisah mengenai ayah yang merindukan anaknya yang hilang jadi konteks yang sangat dalam bagi saya untuk diceritakan ke dalam film.”

Apa tantangan utama dan terbesar dalam produksi ‘Merged With The Ground’ dan bagaimana cara untuk mengatasinya?

Topo Pendem-ss1 krk

Imam: Pemain anak kesurupan saat take dan membuat semua kru panik. Namun kejadian kesurupan tersebut tetap saya masukkan ke dalam film agar terkesan natural. Aktor yang bermain dalam film ini pun tak memiliki pengalaman akting sebelumnya sehingga saya harus memosisikan diri bukan sebagai sutradara melainkan orang biasa. Namun pada dasarnya, proses riset dan pengembangan adalah yang paling penting dalam film ini.

“Membuat film dengan rasa rindu itu berat, plot cerita dirombak habis-habisan apalagi film ini tidak ada skenario sama sekali.”

Imam Syafi’i merupakan satu dari sepuluh finalis Viddsee Juree Awards Indonesia 2019. Lihat finalis lainnya disini!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?