Kenalan sama Sarah Adilah, Finalis Juree ID 2019 Lewat ‘Becoming Girl’!

 

Sarah Adilah ingin jadi sutradara perempuan pertama dari Palu

(Sumber gambar: Sarah Adillah)

Sarah Adilah adalah sutradara kelahiran Palu yang saat ini sedang menggarap tugas akhirnya sebagai mahasiswa di Universitas Multimedia Nusantara. Belajar film secara otodidak sejak SMA, karya-karyanya telah melanglang buana dan berprestasi di berbagai festival dalam maupun luar negeri.

Apa yang membuatmu memutuskan untuk menjadi sutradara?

Sarah: Setiap kali menonton film, nama yang muncul pada akhir adalah penulis atau sutradara. Pada usia remaja saya merasa hal tersebut sangat keren dan mengagumkan. Bayangkan ada satu orang yang mampu memimpin dan merangkul begitu banyak nama pada kredit sebuah film. Saya pun memberanikan diri untuk bermimpi jadi sutradara dan mulai membuat film, walau dengan segala keterbatasan yang ada saat masih duduk di bangku SMA. Setelah mengalami sendiri prosesnya, saya merasa pekerjaan sebagai seorang sutradara bukan pekerjaan sembarangan. Inilah yang mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah film dengan harapan dapat menempuh pendidikan formal dan bekerja di industri perfilman. Sejak saat itu sampai sekarang, saya selalu belajar.

“Menjadi sutradara itu adalah tanggung jawab besar.”

Apa inspirasi di balik film ‘Becoming Girl’?

Sarah: ‘Becoming Girl’ (Menjadi Dara) muncul dari pengalaman pribadi ketika saya mengalami menstruasi pertama. Saya merasa malu, bahkan untuk menceritakannya kepada keluarga. Waktu itu saya tidak punya gambaran sama sekali apa yang seharusnya dilakukan ketika mengalami menstruasi, sebab tak pernah diajarkan bagaimana cara menghadapinya. Selain itu, pembalut hanya diidentikkan dengan perempuan, sehingga akhirnya adik laki-laki saya kadang merasa malu untuk disuruh membeli pembalut. Ternyata pengalaman tersebut masih relevan dengan keresahan yang terjadi di masa sekarang, tak ada perubahan yang signifikan. Utamanya pendidikan mengenai seks, kesehatan serta kebersihan diri pada anak dan remaja yang masih dianggap tabu. Padahal menurut saya, ini perlu untuk dibicarakan melalui orangtua, keluarga atau guru pada anak-anak, tak hanya untuk anak perempuan tetapi juga anak lelaki.

Tonton Becoming Girl arahan Sarah Adilah (Indonesia) sekarang!

Boleh diceritakan sedikit tentang tim yang terlibat dalam film ini?

Becoming Girl-ss5 krk

Sarah: Semua kru yang terlibat adalah teman-teman kami di Universitas Multimedia Nusantara. Tim yang terlibat dari film pendek ini ada 5 kru inti yaitu saya sendiri sebagai penulis sekaligus sutradara, ada Luqman Fajar sebagai produser, Derilius Danielle sebagai editor dan sound designer, Jazmin Sheila sebagai production designer dan Ifan Ario Pratama sebagai director of photography. Karena ceritanya sederhana, kami hanya melibatkan kru kecil untuk meminimalisir dan membentuk kru yang minimalis di lapangan.

“Semua adegan di film ini terjadi di luar ruangan dan butuh fleksibilitas untuk divisualisasikan.”

Apa tantangan utama dan terbesar dalam produksi ‘Becoming Girl’ dan bagaimana cara untuk mengatasinya

Becoming Girl-ss3 krk

Sarah: Tantangannya ada mengingat kami sebagai orang yang dewasa harus bisa menjaga ritme syuting yang dikejar waktu, sementara itu harus tetap menjaga mood para aktor anak agak tak patah semangat. Sebagian besar syuting dilakukan secara outdoor dan ada beberapa adegan yang cukup ekstrem, terutama mengendarai sepeda yang diambil berulang kali. Ketika dalam proses produksi terjadi masalah internal antar kru, sebisa mungkin kami tidak menunjukkannya di depan anak-anak.

“Kami harus tetap menjaga mereka agar tetap nyaman selama syuting.”

Sarah Adilah merupakan satu dari sepuluh finalis Viddsee Juree Awards Indonesia 2019. Lihat finalis lainnya disini!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?