Putri Santoso, Pengusaha Tuli yang Punya Mimpi!

 

Putri Santoso adalah pengusaha Tuli yang mendirikan Kopi Tuli

bersama dua sahabatnya.

Persona-Putri-Santoso-ss1

Tak banyak yang tahu bahwa tanggal 23 – 29 September setiap tahunnya diperingati sebagai International Week of Deaf atau Pekan Tuli Sedunia. Pada tahun 2018, World Federation Of The Deaf (WFD) mengumumkan tema tahun 2019 yaitu Bahasa Isyarat Untuk Semua. Hal ini untuk memastikan tak ada satu pun teman-teman Tuli yang tertinggal.

Nyatanya, terlahir sebagai seorang Tuli masih sangat lekat dengan stigma negatif. Masih banyak yang berpendapat bahwa orang Tuli tak dapat diajak berkomunikasi. Hal ini pula yang membuat mereka kesulitan untuk mandiri secara ekonomi. Teman-teman Tuli masih kesulitan untuk mengakses lapangan pekerjaan.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Putri Santoso. Terlahir tuli, ia sudah merasakan beragam perisakan sejak di bangku sekolah. Namun ketika Putri lulus kuliah, ia tak juga mendapatkan pekerjaan lantaran membubuhkan keterangan “disabilitas tuli” pada surat lamarannya.

Lelah dengan semua penolakan, Putri dan kedua sahabatnya yang juga sama-sama Tuli; Mohammad Adhika Prakoso dan Tri Erwin Syahputra memutuskan untuk membangun usaha kopi bernama Kopi Tuli atau sering disingkat menjadi KOPTUL.

Kisah mereka didokumentasikan dengan sangat manis dan humanis dalam film dokumenter pendek berjudul “Rumah Siput”. Bertepatan dengan perayaan Pekan Tuli Sedunia, Tim Editorial Viddsee menemui Putri di Kopi Tuli Duren Tiga untuk wawancara.

Berikut kisahnya.

Kapan Kopi Tuli mulai dibuka pertama kali?

Putri : Pertama kali KOPTUL dibuka itu pada tanggal 12 Mei 2018. Tempatnya ada di Depok. Yang kedua, tanggal 14 Oktober 2018 tempatnya di Duren Tiga.

Apa yang membuat kedai Kopi Tuli berbeda dari kedai kopi lain?

Putri : KOPTUL beda dengan yang lain. Pertama, KOPTUL dibangun oleh teman-teman Tuli. Kedua, pekerjanya juga adalah teman-teman Tuli. Ketiga, nama di menu kami menggunakan nama-nama alam. Supaya ada interaksi dengan teman-teman Tuli dan teman-teman dengar.

Bagaimana proses yang sudah dilalui sepanjang membangun usaha Kopi Tuli ini?

Putri : Proses dalam membangun KOPTUL ini, pertama kami bertiga (bersama co-founder KOPTUL lainnya yaitu Muhammad Adhika Prakoso dan Tri Erwin Syahputra) melakukan eksperimen selama 210 hari. Saat melakukan eksperimen kami seperti merasakan mabuk. Kedua, kami riset mengenai kopi. Itu kami lakukan dari Jakarta sampai ke Bandung. Yang ketiga, kami melihat mana mesin kopi yang bagus. Ada banyak toko yang menawarkan. Keempat, kami bertiga melakukan diskusi untuk menemukan nama kedai kopinya. Nah, akhirnya ketemu namanya KOPTUL, kepanjangannya adalah Kopi Tuli.

Rumah-Siput-ss1

Berbagai UKM yang mendukung teman-teman disabilitas sudah mulai bermunculan, bagaimana kamu melihat kecenderungan ini?

Putri : Menurut saya, banyak UMKM yang mendukung usaha teman-teman disabilitas. Secara pribadi, saya merasa tidak masalah, karena itu adalah hak mereka. Mereka memiliki hak untuk membuka usaha. Sebagai pengusaha harus mendukung, tidak usah bersaing. Kan rejeki orang beda-beda. Harus tetap saling mendukung yah!

Menurut kamu, apa yang harus diperbaiki di Indonesia?

Putri : Stigma harus dihapus. Stigma yang dimaksud adalah takut untuk memulai komunikasi antara teman-teman Tuli dan dengar. Ketakutan ini berhubungan dengan miskomunikasi yang mungkin saja terjadi satu sama lain. Oleh karena itu, harus ada saling bertukar pikiran atau diskusi. Sehingga nantinya tidak ada lagi stigma seperti itu.

Seandainya kamu diberi kesempatan mengubah sesuatu untuk membuka kesempatan kerja lebih luas bagi teman-teman lainnya. Apa yang akan kamu lakukan?

Putri : Saya ingin mencetak 3T. Talent, tuli, terampil. Dan bisa memberdayakan teman-teman disabilitas. Supaya mereka bisa mandiri secara ekonomi.

Apa saja kendala selama proses membangun usaha ini?

Putri : Kendala kami yang pertama adalah modal. Selain itu, perdebatan diantara tim kami, dan SDM yang di bawah standar. Terkait permasalahan SDM ini, mengatasi hambatan tersebut lantas sangat berkaitan dengan 3T. Proses memilih pekerja-pekerja di KOPTUL diawali dengan melihat niat baik, prinsip dan mental kerjanya. Setelah itu, baru kami bekali dengan keterampilan sebelum turun ke lapangan.

Rumah-Siput-ss4

Setelah melalui semua proses dan tantangan di awal mendirikan usaha ini, lalu semua sudah mulai berjalan, bahkan sudah memiliki dua gerai. Apa yang kamu rasakan sekarang?

Putri : Kami memiliki dua gerai, rasanya campur aduk. Ada senang, sedih, kecewa, juga ada perdebatan. Tapi kami harus tetap berkembang, supaya KOPTUL bisa memiliki pabrik kopi dalam kemasan.

Apa harapan kamu ke depannya terkait usaha Kopi Tuli ini?

Putri : Kami berharap KOPTUL bisa menjadi jembatan antara teman-teman Tuli dengan teman-teman dengar. Tidak ada diskriminasi.

Apa pesan kamu untuk teman-teman Tuli?

Putri : Teruslah berusaha, jangan menyerah. Jangan putus asa. Tetap semangat ya!

 

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?