Riza Pahlevi Cerita Soal Makmum, Dari Film Pendek ke Layar Lebar!

 

Makmum adalah film pendek arahan Riza Pahlevi yang diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama. Film pendek horor ini telah memenangkan beragam penghargaan dan telah ditonton oleh lebih dari 17 juta orang melalui kanal digital.

Sebuah pencapaian yang fantastis untuk sebuah film pendek bukan?

Riza Pahlevi, sutradara film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)
Riza Pahlevi, sutradara film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)

Adaptasi film pendek ke layar lebar bukan hal yang baru di industri film. Tengok saja film panjang pertama Damien Chazelle, Whiplash yang berhasil mengantarkan J.K. Simmons meraih Penghargaan Aktor Pendukung Pria Terbaik di Golden Globe dan Oscar pada tahun 2015.

Film pendek bergenre horor lumayan banyak dilirik untuk diadaptasi, seperti The Babadook (adaptasi film pendek berjudul Monster), Mama, hingga sensasi film pendek yang viral di kanal digital seperti Lights Out dan Cargo.

Dengan diadaptasinya Makmum menjadi film panjang dapat dilihat sebagai sebuah potensi baru di industri film nasional. Dengan ribuan judul film pendek yang diproduksi setiap tahunnya, Indonesia tak kekurangan ide cerita untuk dieksekusi ke durasi yang lebih panjang dan memiliki potensi untuk menemui lebih banyak penonton.

Penasaran dengan proses kreatif dari adaptasi film pendeknya, kami menemui Riza Pahlevi di kawasan Tebet untuk mencari tahu. Riza terlihat segar dan antusias untuk berbincang di tengah cuaca yang cukup terik kala itu. Ditemani dengan segelas kopi, Riza pun membagikan kisahnya untuk kita semua.

Awalnya Ragu Dengan Adaptasi Film Panjang

Sambil menyesap minumannya, Riza menjelaskan bahwa ia terlebih dulu didekati oleh Produser film Dheeraj Kalwani melalui direct message di Instagram. Setelah melalui beberapa kali pertemuan, ia pun setuju untuk membuat dan terlibat dalam adaptasi film Makmum.

Di beberapa media, Riza sempat menyatakan bahwa awalnya ia ragu untuk menyetujui proyek adaptasi Makmum. Keraguan itu datang mengingat ia dan rekan-rekannya ingin membuat kelanjutan dari film ini, entah itu berupa sekuel atau masih dalam satu dunia yang sama. “Tapi kami sendiri takut film selanjutnya tidak bisa menyamai film pertamanya. Apalagi ini film panjang, untuk itu kami terus belajar, mengasah kemampuan kami agar bisa membuat film panjang Makmum suatu hari nanti. Kami sadar diri kok dengan kapasitas kami,” ungkapnya jujur.

Keraguan Riza sendiri semakin membesar mengingat film adaptasi ini akan diproduksi oleh Dheeraj Kalwani yang film-film lainnya sering ia kritik. Namun Dheeraj berhasil meyakinkannya dengan memenuhi beberapa permintaan Riza untuk terlibat secara penuh dan memberikan kru film terbaik.

Terlibat Dalam Produksi Film Panjang Makmum

Potongan adegan film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)
Potongan adegan film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)

Kami pun meminta penjelasan lebih lanjut mengenai “permintaan Riza” untuk proyek adaptasi Makmum. Dengan senyum lebar di wajahnya, Riza menjabarkan permintaannya untuk tetap dapat terlibat dalam adaptasi Makmum. Dheeraj Kalwani bahkan menawarkannya bangku penyutradaraan yang berpotensi untuk menjadi debut karirnya di film panjang bioskop. Namun karena beberapa pertimbangan, maka pemilihan sutradara dan penulis merupakan hasil diskusi bersama.

Riza mengakui bahwa sebagai sutradara film pendek, awalnya ia memiliki ‘ego’ untuk membuat versi adaptasi dengan tangannya sendiri. Namun ia menyadari bahwa perasaan tersebut bisa jadi pepesan kosong belaka, mengingat ia belum memiliki pengalaman terjun ke industri film sebelumnya.

Tonton ‘Makmum (Behind Me)’ arahan Riza Pahlevi (Indonesia) sekarang!

Berlangganan Viddsee

“Saya belum pernah pegang film panjang, jadi saya percayakan kepada sutradara yang lebih profesional dalam hal ini. Namun Pak Dheeraj mengajak saya untuk berdiskusi dalam memilih sutradara dan penulis naskah. Bahkan saya dan Vidya selaku penulis naskah Makmum versi pendek ikut terlibat dalam mengembangkan naskah versi adaptasi. Kami terus dilibatkan sepanjang proses produksi film ini.”

Proses Adaptasi yang Menguras Energi

Tantangan terbesar dari proyek adaptasi Makmum ada pada proses penulisan skenario. Riza mengakui bahwa proses ini sendiri cukup menguras waktu, tenaga, dan emosinya. Selama lebih dari setengah tahun, ada sembilan hingga sepuluh draft yang setiap versinya bisa sangat berbeda. Ia mengakui bahwa untuk setiap draftnya, mereka banyak berdiskusi dengan produser dan sutradara sehingga menciptakan cerita untuk film yang berbeda-beda.

“Kami mencoba untuk membuat sesuatu yang baru dari yang sudah ada. Kami ingin mempertahankan ‘ruh’ dari film pendek dan membuat varian dan improvisasi. Proses ini sendiri memakan kira-kira lebih dari setengah tahun.”

Terlibat dalam produksi film panjang, apalagi adaptasi dari film pendek Makmum membutuhkan energi yang sangat besar. Riza bernostalgia ketika mengingat proses produksi film pendeknya dahulu, “Dulu kami hanya iseng bikin Makmum, alatnya pinjam dari teman, kru pun gak ada yang dibayar. Kami mengerjakannya dengan ikhlas, eh gak taunya malah menciptakan hype sebesar ini!”

Pentingnya Intelectual Property Bagi Film Pendek

Potongan adegan film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)
Potongan adegan film pendek Makmum (sumber: Riza Pahlevi)

Adaptasi film pendek Makmum dapat dilihat sebagai sebuah prestasi namun menyisakan ruang untuk diskusi, terutama mengenai Hak Kekayaan Intelektual atau intellectual property. Riza mengakui bahwa faktor ini cukup menyita waktu sebelum akhirnya ia setuju dengan proyek adaptasi Makmum. Beruntung salah satu dari tim film asli sudah terbiasa berurusan dengan kontrak sehingga memberikan banyak masukan bagi Riza untuk setiap kata dan kalimat di dalam kontrak.

Riza sendiri membagikan saran bagi teman-teman pembuat film pendek yang sedang atau akan didekati oleh production house untuk membuat versi adaptasi film mereka.

“Ketika film pendekmu populer, entah itu dari jumlah views atau menang di berbagai festival film besar, sebaiknya segera didaftarkan ke hak cipta. Ketika itu sudah dilakukan, kalian sudah aman.”

Keberuntungan Riza karena berjodoh dengan pihak produser yang menghargai kerja kreator asli membuatnya belajar betapa pentingnya hak kekayaan intelektual dan hak cipta. “Jangan sampai keburu diambil dan malah disalahgunakan,” pesannya dengan nada serius sambil menutup pembicaraan kami hari itu.

Baca sekarang: Baby Boomers Jadi Inspirasi Rein Maychaelson Bikin ‘Oldies Buddies’!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?