‘Rock ‘N Roll’, Visualisasi Cinta Wisnu Kucing pada Kuliner Jakarta

 

Wisnu Kucing ingin makanan yang ada di filmnya merepresentasikan asal-usul dan penduduk Jakarta

Wisnu-Kucing-1.jpg

Wisnu Surya Pratama sudah cukup dikenal di kalangan komunitas film. Kiprah pria yang akrab dipanggil Wisnu Kucing ini pertama kali dikenal lewat film ‘Catatan Seorang (Mantan) Demonstran’ dalam 9808, antologi film pendek untuk memperingati 10 tahun era reformasi di Indonesia pada 2008. Namanya cukup dikenal di kalangan pemerhati dan pelaku perfilman, khususnya dokumenter.

Salah satu karya yang paling dikenal dari sineas asal Banyuwangi ini adalah ‘Rock ‘N Roll’, sebuah film pendek yang berkisah mengenai Jakarta. Film yang mengisahkan obrolan santai dua sahabat lama di tempat-tempat kuliner legendaris Jakarta ini menerjemahkan Jakarta sebagai tempat untuk kembali, layaknya kampung halaman yang dipenuhi kenangan. Jakarta tak lagi dipotret sebagai sekadar tempat singgah untuk urusan ekonomi belaka.

Untuk merayakan ulang tahun Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni, saya bertemu dengan Wisnu Kucing di sebuah kafe di bilangan Kemang. Diselingi sepiring pisang goreng hangat dan hembusan asap rokok, kami berbincang akrab mengenai kesannya akan Jakarta serta keinginannya untuk membuat film lain tentang kota ini.

Dunia Film adalah Passion Terbesarnya

Wisnu-Kucing-3.jpg

Alumnus Universitas Indonesia ini mengawali keterlibatannya di dunia film ketika ia mengurus KONFIDEN. Ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya untuk menjadi sutradara sudah ada sejak kecil, bahkan sempat diterima di sebuah sekolah film tapi kesempatan itu harus dilewatkan karena masalah ekonomi.

“Di tahun 90an, ada anggapan kalau pembuat film itu masa depannya suram. Gue sempet keterima di sekolah film tapi ya gak dibiayain,” ungkapnya sambil terkekeh.

Beruntung, ia kuliah di jurusan sastra yang punya kaitan erat dengan dunia literatur dan film. Walau sempat menggeluti profesi lain, Wisnu Kucing merasa bosan lalu memutuskan untuk menjadi freelancer hingga sekarang. “Mengerjakan sesuatu yang sesuai ama passion lo tuh emang beda. Gue mulai dari asisten produksi, astrada, sampai akhirnya keterusan kerja di film dari 2005 sampai sekarang. Belum kepikiran untuk berhenti,” tandasnya lugas.

Di tahun 2017, ayah satu anak ini menyutradarai ‘Songbird: Burung Berkicau’ sebagai bagian dari program Colors of Asia di TokyoDocs 2016. Proyek yang didanai oleh NHK Jepang ini juga mendapat nominasi dokumenter pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2017.

#Bikin Surat Cinta untuk Jakarta

Wisnu-Kucing-7.jpg

‘Rock ‘N Roll’ adalah bagian dari antologi Surat Cinta untuk Jakarta yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. “Ide program muncul untuk mempromosikan Jakarta dengan cara yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara menyeluruh. Di tengah hujatan tentang macet dan banjir kota Jakarta, kita tetap cinta kok sama Jakarta,” ujar Alex Sihar, anggota Komite Film DKJ sekaligus Sekretaris Umum Pengurus Harian DKJ di tahun 2015.

Film berdurasi 20 menit ini mengisahkan sepasang sahabat lama yang bertemu kembali setelah dua tahun berpisah. Pertemuan ini membuat keduanya berkeliling Jakarta, menyambangi tempat-tempat kuliner yang menyimpan kenangan akan persahabatan serta cinta mereka.

“Gue suka komedi romantis. Gue suka cara yang dipakai Richard Linklater di trilogi The Before, lo gak ngerasain perpindahan babaknya. Itu kenapa gue pake makanan buat menjembatani perpindahan babak ini. Film ini talky sekali, pace-nya juga cepat, tahu-tahu filmnya selesai.”

Ia ingin membuat film yang enak untuk ditonton berulang kali dan membicarakan hal yang sangat personal.

Wisnu sengaja membuat skrip yang tak membutuhkan proses produksi yang merepotkan. Syuting sengaja dilakukan di siang hari dan menggunakan kamera yang shaky untuk menggambarkan suasana kota. “Gue sengaja gak ngeblok tempat demi syuting. Ada orang makan, lalu lalang ngelewatin kamera, dibiarin aja. Biar kesannya otentik.”

Beri Kebebasan Untuk Eksplorasi Aktor

Wisnu-Kucing-2.jpg

Untuk mendapatkan kesan yang lebih otentik, Wisnu memberikan ruang yang sangat besar bagi aktor-aktornya untuk mengembangkan skrip. Baginya, karakter dalam film bisa hidup jika aktornya diberikan ruang. Ia membiarkan mereka mengeksplor skrip karena ingin melihat ada intensitas cerita.

Ia mengakui, proses sebelum syuting memakan waktu yang cukup lama. Kedua aktor yang dipilih harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membangun karakter masing-masing. Pria berbintang Taurus ini menggambarkan detail karakter yang ada di kepalanya dan membebaskan kedua aktor untuk berimprovisasi dengan dialog, selama masih berhubungan dengan intensitas cerita.

Wisnu-Kucing-4.jpg

“Sejak awal gue nulis skrip, di kepala gue yang jadi Indra ya harus Anggun Priambodo. Ketika gue memilih Anggun, gue tahu kalau skrip film ini akan menjadi elastis. Putri Ayudya sebagai pemeran Asti lah yang kemudian akan menjaga koridor dan setia sama cerita, karena Anggun gak bisa diiket.”

Kuliner itu Sumbangan Kebudayaan!

Makanan menjadi elemen penting untuk menjahit jalinan kisah antara Asti dan Indra. Alasan utama mengapa tempat kuliner seperti bubur ayam A Guan di Mangga Besar dan es kopi Tak Kie di Glodok dipilih karena ia sendiri menyukai makanan tersebut. Wisnu Kucing ingin makanan yang ada merepresentasikan asal-usul Jakarta, “Ngomongin Jakarta gak lepas dari persebaran orang-orang yang bermukim disitu.”

Wisnu-Kucing-5.jpg

Lebih jauh lagi, alasan pemilihan tempat-tempat tersebut juga memiliki nilai historis. Sebagai kota yang multi-etnis, Wisnu ingin menggambarkan sumbangan orang-orang yang datang terhadap kebudayaan Jakarta dan kuliner adalah jawabannya. Bubur ayam A Guan misalnya, tempat ini dipilih karena keunikannya. A Guan tersebut menyediakan bubur khas etnis Tionghoa namun menyediakan kuah kuning. Makanan tersebut lalu berubah identitasnya menjadi bubur khas betawi.

“Film ini ya kayak lo lagi makan. Ada sarapan, terus ngopi, makan siang, nyemil, terus makan malam, kira-kira begitu analoginya.”

Sebagai pecinta kuliner, Wisnu ingin lebih banyak memasukkan tempat kuliner pilihannya, tapi terbentur dengan durasi dan proses syuting. “Sebenernya ada lebih banyak tempat yang pengen gue masukin, tapi gak memungkinkan. Intinya, gue pengen entitas yang membangun Jakarta masuk ke dalam setiap elemen film ini. Termasuk dari pilihan tempat kulinernya,” katanya sambil tertawa lepas.

Jakarta, Rumah untuk “Pulang”?

Selain ‘Rock ‘N Roll’ yang berbicara tentang Jakarta, karya Wisnu Kucing lainnya yaitu ‘3LL4’ juga membicarakan hal yang sama. Ketika ditanya mengenai pandangannya dalam melihat Jakarta, ia membalasnya dengan pertanyaan lain, “Sebenernya, layak gak sih kita menyebut kota ini sebagai rumah untuk pulang? Banyak banget orang yang males tinggal disini, tapi selalu kembali. Ada rasa ketergantungan terhadap Jakarta, bahkan ada rasa kangen untuk kembali.”

Seperti kota besar lainnya, Jakarta adalah pusat roda ekonomi. Wisnu melihat fenomena orang-orang yang mulai keluar dari Jakarta. Ada yang memilih untuk tinggal di kota sekitar, tapi ada juga yang memilih untuk tidak tinggal di Jakarta.

“Tapi pada akhirnya, kita tetap datang kesini. Ketergantungan kita sama kota ini terlalu besar.”

Proyek Impian di Masa Depan

Wisnu-Kucing-6.jpg

Wisnu menyimpan satu keinginan untuk membuat karya lain yang masih berbicara tentang Jakarta dari sudut pandang berbeda. Sebagai seorang mantan aktivis, ia masih memiliki kepedulian yang besar akan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang belum tuntas hingga sekarang.

Sambil menerawang, Wisnu menjelaskan idenya, “Bayangin kalau anak dari korban kekerasan HAM ini balas dendam. Dia sengaja menghabiskan umurnya demi latihan martial arts dan mencari orang-orang yang punya dendam yang sama. Orang ini akan pakai game chat dan aplikasi kencan daring buat komunikasi sama kelompoknya, pake kode-kode tertentu. Dan pemerannya harus culun, gak keliatan berbahaya. Lucu juga kali ya kalo dibikin trailernya. But it’s gonna be…huge. Ada gak produser yang berani bikin ini?” tantangnya sambil menutup obrolan kami malam itu.

Yuk kenalan sama Yofri Rahmat Dia, sutradara film ‘Mencari Sulaiman’!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?