Temi, Penerjemah Subtitle Lebih Dari 100 Judul Film Pendek di Viddsee!

 

Temi telah menerjemahkan subtitle untuk lebih dari seratus judul film pendek di Viddsee!

“Setelah kamu mengatasi hambatan subtitle setinggi satu inci, kamu akan dikenalkan dengan begitu banyak film yang lebih menakjubkan,” begitu kira-kira ujaran Bong Joon Ho dalam pidato kemenangan ‘Parasite’ pada gelaran Oscar 2020 yang kini melegenda. Bagi kebanyakan penonton film di Indonesia, subtitle tentu jadi komponen penting dalam menikmati film asing.

Penerjemah subtitle memegang peranan penting dalam ekosistem film, lihat saja betapa fenomenalnya Lebah Ganteng atau Pein Akatsuki, terutama bagi penikmat film via streaming atau hasil unduhan di Torrent. Seiring bertumbuhnya jumlah konsumsi film via beragam platform digital, komunitas penerjemah subtitle pun tubuh subur.

Salah satu dari komunitas penerjemah ini adalah Viddsee Subbers.

Komunitas ini berbasis kesamaan ketertarikan untuk mengalihbahasakan subtitle sebuah film pendek guna mengantarkan sebuah karya ke khalayak yang lebih luas. Mereka memiliki kesamaan visi; khalayak dapat menikmati film pendek dari berbagai negara tanpa hambatan perbedaan bahasa. Ini juga jadi salah satu cara untuk memberikan dukungan kepada para pembuat film lokal agar cerita mereka bisa sampai ke penonton global melalui subtitle.

Viddsee Subbers punya peran yang jelas krusial. Layaknya jembatan lintas budaya, proses penerjemahan tidak semata-mata hanya menerjemahkan bahasa. Film-film pendek yang ada di Viddsee datang dari berbagai negara dengan perbedaan latar belakang budaya. Tugas mereka sudah tentu mengalihkan suatu budaya dari bahasa sumber ke budaya bahasa sasaran.

Selama ini dorongan kuat yang menggerakkan mereka benar-benar berdasarkan passion menonton film dan menerjemahkannya secara sukarela.

Persona Temi ss1

Dalam Persona spesial Hari Film Nasional kali ini, kami berbincang-bincang seru dengan Temmi, salah satu anggota komunitas Viddsee Subbers. Berdasarkan rekam jejak kontribusinya, perempuan yang mengaku sejak lama telah menyimpan keinginan untuk menjadi penerjemah subtitle film ini telah menerjemahkan lebih dari seratus judul film pendek di Viddsee. Simak obrolan kami dengan Temmi tentang pengalaman serunya di dunia penerjemahan subtitle!

Bagaimana awalnya kamu memutuskan untuk menjadi penerjemah subtitle?

Temi: Melalui sebuah lowongan pekerjaan subtitler pada tahun 2005. Rasanya seru sekali bisa menerjemahkan film-film asing ke bahasa sendiri lalu dibaca banyak orang supaya mereka bisa paham apa maksud filmnya. Sayangnya saya tidak lolos, sehingga cuma bisa menyimpan harapan suatu saat bisa terjun di bidang ini karena memang saya menyukai bidang bahasa sejak masih SD.

Apa yang membuat kamu tertarik bergabung dengan komunitas Viddsee Subbers ID?

Temi: Karena sejak lama menyimpan keinginan untuk menjadi penerjemah subtitle, maka ketika muncul pengumuman menjadi volunteer di Viddsee, saya langsung mendaftar. Kebetulan waktu itu saya baru saja mengunduh aplikasi Viddsee di ponsel dan sedang mengeksplorasi film-film yang ada dan menu pada aplikasi.

Apakah kamu punya sosok role model di dunia penerjemahan subtitle?

Acara mengenai pentingnya subtitle di acara Juree ID 2019
Acara mengenai pentingnya subtitle di acara Juree ID 2019

Temi: Tidak. Terus terang dunia penerjemahan masih asing bagi saya, apalagi orang-orang yang ada di dalamnya. Makanya waktu Viddsee menyelenggarakan diskusi soal subtitle tahun lalu, saya bela-belain berangkat ke Jakarta. Sejauh ini secara otodidak saya mempelajari subtitle film-film asing yang saya tonton, ikut kursus dan membaca beberapa literatur secara online. Saya bahkan baru tahu belakangan bahwa ada seseorang dengan sebutan Lebah Ganteng yang begitu populer di kalangan penonton film bajakan di internet.

Apa film pendek pertama yang diterjemahkan? Kenapa kamu memilih untuk menerjemahkan film tersebut?

Berlangganan Viddsee

Tonton ‘Shadow’ arahan Derrick Yaw (Malaysia) sekarang!

Temi: Film pertama yang sebenarnya saya ingin kerjakan adalah ‘He Took His Skin For Me‘ karena idenya mengenai sebuah pengorbanan untuk cinta, very disturbing. Tapi saat itu saya belum cukup percaya diri mengandalkan telinga untuk mendengarkan dialog dalam bahasa Inggris. Lalu saya mencari film lain yang sudah memiliki subtitle bahasa Inggris, sehingga tinggal diterjemahkan saja ke bahasa Indonesia. Kebetulan yang saya pilih adalah ‘Shadow’, film thriller dari Malaysia yang bercerita soal pencurian identitas seorang blogger.

Sudah berapa judul film yang subtitle-nya kamu terjemahkan?

Temi: Sekarang sudah 106 judul. 105 untuk alih bahasa Inggris ke Indonesia dan 1 untuk alih bahasa dari Indonesia ke Inggris.

Apa tantangan terberat dalam pengerjaan subtitle?

Temi: Penyesuaian latar belakang, seperti budaya, agama, nilai-nilai, dll. yang dimiliki oleh para karakter di dalam film. Penerjemah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pesan yang disampaikan para tokoh di dalam film sampai kepada para penonton dengan tepat. Hal itu tidak mudah. Menerjemahkan film tidak bisa dilakukan dengan menerjemahkan secara literal dari kamus.

Contoh sederhana, ketika tokoh bilang, “Are you okay?” bisa saja saya menerjemahkannya menjadi, “Kamu baik-baik saja?” tapi penerjemahan seperti ini terasa sedikit kaku, karena dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bicara seperti itu. Kita akan bertanya, “Kamu tidak apa-apa?”; maka, yang terakhir inilah yang lebih tepat untuk dipakai. Selain itu yang terberat tentu saja, menerjemahkan lelucon. Menerjemahkannya secara literal bisa membuat kelucuannya hilang sama sekali. Sering kali penerjemah harus pandai-pandai mencari padanan lelucon itu dalam konteks budaya Indonesia.

Ada kriteria khusus untuk film yang kamu terjemahkan? Misal per genre atau negara?

Temi: Karena Viddsee membebaskan kami untuk memilih film yang kami sukai maka saya cenderung memilih film yang sesuai dengan genre kesukaan, yakni horor dan thriller. Saya selalu menyempatkan untuk menonton terlebih dahulu film yang akan saya terjemahkan, minimal setengahnya untuk mendapatkan gambaran umum mengenai ceritanya. Kalau kurang suka yaa cari yang lain. Film-film yang mendapatkan penghargaan, seperti tertera pada sinopsis, biasanya menjadi perhatian saya juga.

Dari seluruh judul yang sudah kamu terjemahkan, apa film yang paling berkesan dalam pengerjaannya?

Tonton ‘Fleshly Meat Pies’ arahan Yao-sheng Chang & Kassey C.M. Huang (Taiwan) sekarang!

Temi: ‘Fleshly Meat Pies, film dari Taiwan. Pengerjaan terjemahan film ini sempat saya tinggalkan setengah jadi, berbulan-bulan lamanya. Film yang mengisahkan perundungan kepada anak sekolah ini terasa berat secara emosi bagi saya yang punya anak seusia tokoh di dalam film. Apalagi akhir film ini tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai nasib anak-anak yang merundung dia. Benarkah mereka mati atau itu hanya khayalannya saja?

Saya juga sempat mengalami kesulitan dalam memberikan judul yang pas dan ada beberapa adegan yang menampilkan karakter huruf cina tanpa terjemahan bahasa Inggris. Untunglah ada google translate dengan fitur foto yang bisa membantu menerjemahkan huruf-huruf itu!

Selain film pendek, kamu juga menerjemahkan serial. Apakah ada tantangan yang berbeda?

Temi: Tantangannya saya pikir ada pada konflik cerita yang tidak sama kuat di tiap episode. Ada episode yang menarik, ada yang membosankan, tetapi semuanya jadi satu paket yang harus diselesaikan. Selain itu, ada beberapa serial yang memiliki banyak episode dengan durasi yang cukup panjang. Kami sebagai volunteer sulit untuk mendedikasikan waktu khusus untuk mengerjakannya karena punya kesibukan lain.

Bagaimana kamu melihat peran penerjemah subtitle dalam lingkup industri film Indonesia?

Temi bersama beberapa teman komunitas Viddsee Subbers di acara Juree ID 2019
Temi bersama beberapa teman komunitas Viddsee Subbers di acara Juree ID 2019

Temi: Pada skala internasional, peran para penerjemah subtitle belakangan terangkat berkat film ‘Parasite’. Hal ini sudah seharusnya menjadi bukti sekaligus penyemangat bagi pelaku industri film Indonesia bahwa perbedaan bahasa bukanlah penghalang bagi mereka untuk muncul di kancah internasional. Saya melihat di Viddsee, cukup banyak sutradara film pendek Indonesia yang sudah menempelkan subtitle bahasa Inggris untuk karya mereka bahkan sebelum dipertontonkan ke publik. Itu bagus. Yang perlu diperhatikan juga tentunya adalah kebutuhan teman-teman tuli akan subtitle dalam bahasa Indonesia untuk bisa menikmati filmnya juga.

Apa harapan kamu terkait penerjemah subtitle serta industri film Indonesia di masa yang akan datang?

Temi: Harapan saya profesi ini dihargai selayaknya bagian dari proyek film secara keseluruhan. Tanpa subtitle, sehebat apapun jalan ceritanya, secerdas apapun dialognya, tidak akan bisa sampai pada penonton yang sangat heterogen. Satu hal lagi, agar para penerjemah bisa bekerja secara profesional, saya berharap ada standar penerjemahan yang bisa menjadi acuan kami.

Penasaran film pendek apa saja yang sudah diterjemahkan subtitle-nya oleh Temi? Lihat playlistnya!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?