4 Tips Bikin Film Fantastic Genre di Indonesia

 

Pembuat Film Fantastic Genre, Wajib Baca!

Fantastic Genre ss5

Fantastic genre adalah film dengan genre yang mencakup beberapa tema seperti mitologi, peristiwa supranatural, action, thriller, horor, science fiction, pada dasarnya hampir semua tema kecuali pure drama, pure comedy dan pure reality. Berdasarkan definisi tersebut, bicara tentang fantastic genre di Indonesia tentu tidak akan ada habisnya, karena genre ini adalah potongan besar dari klasifikasi atau kategori film yang menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia. Sebut saja ‘Loetoeng Kasaroeng’ film bisu pertama yang dibuat di Indonesia pada tahun 1926. Film arahan sutradara asal Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp ini jelas bergenre fantasi dengan tema mitologi atau cerita rakyat.

Walaupun setelah itu perfilman Indonesia sempat melalui jatuh bangun beberapa dekade berikutnya. Loncat maju ke era 70-80an, film laga, horor dan gore menjadi sangat-sangat kuat dan berkembang. Memang sempat beberapa kali mengalami koma, tapi perfilman Indonesia selalu bisa bangkit kembali. Dan tak dipungkiri, film fantasi bertema horor selalu hadir di era kebangkitan tersebut.

Rangkaian acara Viddsee Juree Indonesia yang telah berlangsung 8-10 Agustus 2019 lalu, membuka forum diskusi menarik tentang film fantasi ini. Diskusi yang dilakukan tepat di hari pertama acara, bertema ‘Fantastic Film: Tren dan Peluang’. Panelis yang hadir adalah Paul Agusta (sutradara Indonesia), Stephen Jenner (Motion Picture Association) dan Jongsuk Thomas Nam (Bucheon International Fantastic Film Festival).

Ruang diskusi menjadi hangat penuh semangat ketika pembicaraan mengupas lebih detil tentang peluang fantastic genre di berbagai platform digital khususnya di Indonesia.

Bagi kalian yang melewatkannya, jangan khawatir! Kami sudah merangkumnya buat kamu.

Simak lebih lanjut rangkuman diskusinya di bawah ini!

Cerita Rakyat Selalu Memikat!

Forum diskusi 'Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019

Berbicara tentang peluang, Paul Agusta mengatakan bahwa ada peluang besar yang dilihat berdasarkan pengalamannya membuat film fantastic genre, khususnya yang bertema horor. Namun, ada sebuah cara mengemas cerita horor yang dinilainya selalu bisa diterima oleh penonton.

“Ada sebuah cara untuk memasuki pasar penonton horor yang saya yakini. Yaitu melalui film horor yang berkisah tentang cerita rakyat. Dan formula itu selalu sukses di pasaran. Saya juga melihat banyak platform menonton film saat ini mengangkat tema tersebut. Ini menjadi semacam tren. Begitu pun untuk para pembuat film pendek.”

Fenomena lain terkait bahasan ini juga dilihat oleh Jongsuk Thomas Nam jika dihubungkan dengan pasar Asia. Menurutnya, peluang besar terkait permintaan pasar akan film fantasi dengan strong sense of culture menjadi semakin meningkat.

“Hal ini berdampak pada kemunculan film-film dari berbagai negara di Asia khususnya dari Indonesia yang nantinya akan saling bersaing mengangkat ide cerita yang memasukkan unsur-unsur kebudayaan yang kuat,” tambahnya.

Think Local, Act Global!

Film-film fantasi yang mengangkat elemen-elemen kebudayaan memang selalu terlihat eksotis. Bergaya lokal akan selalu terlihat berkarakter kuat di mata internasional. Stephen melihat potensi serta kreatifitas yang baik tertuang di sana. Namun menurutnya, jangan melupakan unsur presentasi terpenting dalam karyamu. Yaitu penggunaan bahasa yang diterjemahkan.

 

Forum diskusi 'Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019

Penggunaan terjemahan yang baik dalam sebuah karya dinilai penting bagi Stephen, “Terkadang permasalahannya adalah para filmmaker tidak menggunakan terjemahan yang baik. Sehingga terjemahan yang ada tidak bisa mengungkapkan arti sebenarnya dari dialog yang ditampilkan. Bahkan terkadang tidak ada terjemahannya sama sekali. Sampai kami harus memaksa para pembuat film untuk mengunggah terjemahan ke dalam film mereka.”

Stephen mengomentari hal ini dengan serius, bahwa akan sangat disayangkan jika dalam sebuah festival film misalnya, karya pembuat filmnya tidak dapat dimengerti penonton global. Jadi pastikan pesan yang ingin disampaikan dalam filmmu bisa diterima dengan baik oleh penonton dari berbagai belahan dunia.

Fantastic genre Selalu Dinanti!

Forum diskusi 'Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019

Paul mengaku selalu antusias melihat film-film fantastic genre terus bermunculan. Terutama jika ada pembuat film pendek yang fokus membuat karya dengan genre ini. Karena menurut pengamatannya, akan selalu ada penonton yang menyukai jenis film ini. Dan mereka cenderung spesifik suka menonton film pendek. Lebih dari itu, apalagi jika sebuah film pendek didistribusikan ke sebuah platform. Tidak menutup kemungkinan karya mereka tidak hanya dilihat oleh penonton, tapi juga juga berpotensi dilirik rumah produksi yang membaca permintaan penonton akan versi panjang dari film pendek tersebut.

“Karena mau itu platform komersil atau non komersil, akan selalu ada penonton yang menanti di sana. Dan pertumbuhan pasarnya selalu meningkat,” ungkap Paul dengan optimis.

Jangan terlalu fokus pada budget, jadi kreatif!

Forum diskusi 'Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019
Forum diskusi ‘Fantastic Film: Tren dan Peluang di Viddsee Juree Indonesia 2019

Berbicara tentang salah satu genre yaitu science fiction dan horror, yang masuk dalam klasifikasi fantastic genre tak akan jauh dari pembicaraan soal biaya produksi. Ketika muncul pertanyaan pemantik mengenai ini dari salah satu pembuat film yang hadir. Ketiga panelis langsung kompak berkomentar dengan jawaban yang senada.

Diawali oleh Stephen, “Jika kita bicara tentang film horor, kita bukan bicara soal budget. Tapi ini tentang ceritanya dan bagaimana kamu membuat trik untuk supaya filmmu menarik. Banyak film horor yang diproduksi dengan budget minim. Rasanya ini akan menyangkut passion dalam membuat sebuah karya. Sepertinya itu adalah cara satu-satunya untuk menjawab pertanyaan tersebut.”

Paul menambahkan, “Saya setuju dengan hal itu, ini hanya menjadi alasan saja. Bukan sebuah hal yang bisa dijadikan pertimbangan untuk tidak membuat film sci-fi di Indonesia. Kalau selalu dibilang masalahnya adalah biaya produksi, jelas bukan! Sci-fi adalah genre yang sangat luas. Jadi, kalau ada yang bilang buat film sci-fi itu mahal, berarti imajinasimu yang terbatas. Jadi, jangan bilang ini mahal, karena kita sangat bisa mengandalkan ide dan konsep cerita.”

Jawaban-jawaban yang sangat lugas dan menarik ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi para pembuat film yang konsisten membuat karya bergenre fantasi. Namun seringkali terbentur masalah budget. Jangan menjadikan biaya produksi sebagai alasan.

Ini juga merupakan upaya mendorong para pembuat film, sehingga dapat menggali kreatifitas secara lebih mendalam untuk berkarya.

Thomas juga turut berpendapat dan menutup diskusi dengan pernyataan yang bernada dukungan, “Ini adalah tentang ide apa yang ada di kepalamu, kamu harus menggalinya. Tidak ada hasil yang datang dengan sendirinya. Kamu harus berusaha mendapatkanya!”

Baca juga: 6 Tips Penting untuk Pembuat Film Pemula di Asia Tenggara!

 

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?