Yusuf Radjamuda Optimis Dengan Geliat Produksi Film Regional

 

Film yang mengedepankan kebudayaan lokal bisa merepresentasikan Indonesia yang sebenarnya.

Salah satu adegan film 'Halaman Belakang' (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Salah satu adegan film ‘Halaman Belakang’ (Sumber: Yusuf Radjamuda)

Pada kompetisi film pendek di Vladivostok International Film Festival, seorang nenek berbagi kesannya setelah menonton film ‘Halaman Belakang’. Saat terdengar kicauan burung di film tersebut, adegan ini membawa impresi yang mendalam baginya, membuatnya teringat pada kematian burung yang ia bawa dari Indonesia. Sekilas, kejadian ini tak ada hubungannya sama sekali dengan cerita ‘Halaman Belakang’. Namun bagi Yusuf Radjamuda, kejadian ini mendefinisi ulang pendapatnya mengenai keajaiban sinema itu sendiri.

“Saya juga kaget, pikirku dia sedih karena liat anak itu, tapi ternyata karena burung. Awalnya saya sempat kecewa, dia tidak ngerti ceritanya. Tapi setelah dipikir-pikir, Nenek dan anak di film berbagi kesedihan yang sama: ditinggalkan oleh sesuatu yang mereka sayangi.”

Yusuf Radjamuda ss1 krk.jpg
(Sumber: Yusuf Radjamuda)

Yusuf Radjamuda – akrab dipanggil Papa Al – adalah seorang pembuat film asal Palu, Sulawesi Tengah. Film pendek terakhirnya, ‘Halaman Belakang’ (2013) memenangkan beragam penghargaan di festival dalam negeri dan berkompetisi di skala internasional seperti Dubai International Film Festival dan Vladivostok International Film Festival.

Diiringi dengan burung-burung yang berkicau merdu, kami berbincang hangat dengan Yusuf Radjamuda mengenai kecintaannya akan produksi film hingga optimismenya melihat kebangkitan film-film daerah.

Berawal Dari Iseng, Jadi Kecanduan

Saat syuting film 'Halaman Belakang' (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Saat syuting film ‘Halaman Belakang’ (Sumber: Yusuf Radjamuda)

Awal mula pria berbintang Taurus ini ke dunia penyutradaraan film pendek adalah ketika ia ditugaskan untuk mendokumentasikan acara keluarga. Proses ini kemudian membuatnya tertarik untuk mengulik dan belajar lebih dalam tentang proses pembuatan film.

“Awalnya tidak ada niat untuk jadi sutradara. Terus bikin sendiri, ngedit sendiri…kok hasilnya jelek. Jadi penasaran lalu jadi keasyikan.”

Papa Al mengakui bahwa ia awalnya ingin masuk ke sekolah film, namun sayang sekali tak hal tersebut tak memungkinkan. Oleh karena itu, ia terpacu untuk belajar mandiri dengan menonton film serta mengikuti beberapa workshop. Tak puas dengan film perdananya – ‘Sahabat dan Harapan’ – Papa Al tidak memasukkan namanya sebagai sutradara. Ia bahkan memakai nama istrinya sebagai sutradara di film tersebut.

“Dengan kondisi yang seadanya, ya sudah belajar sendiri,” ungkapnya rendah hati.

Bagi ayah dua anak ini, film menjadi medium yang paling tepat baginya untuk berbagi cerita. “Film membuat saya semangat untuk bercerita. Saya jadi kecanduan buat bercerita lewat film,” ungkapnya sembari tertawa geli.

Curhat Lewat Film

Papa Al di belakang kamera. (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Papa Al di belakang kamera. (Sumber: Yusuf Radjamuda)

Film-film Papa Al memiliki satu napas yang cukup kuat, yaitu ‘relationship’. ‘Halaman Belakang’ menceritakan keluarga dari sudut pandang seorang anak atau ‘Matahari’ yang bertutur mengenai hubungan antara manusia dan alam. Kecenderungan untuk mengedepankan hubungan antar manusia (atau alam) awalnya tak disadari oleh Papa Al.

Jika melihat ke belakang, ia terkenang akan masa kecilnya yang memiliki banyak kucing. Ketika salah satu kucing kesayangannya hilang, suatu saat ia melihat bola plastik kecil yang sering dipakai bermain saat sedang berbaring di lantai. Kesedihannya pun timbul hingga berlarut-larut.

“Kenapa setiap yang kita temui di dunia ini akhirnya harus berpisah?” tanyanya melankolis.

Kesan-kesan di masa kecil itu dirasa cukup berkontribusi pada film-film yang ia buat secara alam bawah sadar. Walau dalam membuat cerita dibuat mengalir sesuai dengan apa yang ia amati, namun pertanyaan yang selalui menghantuinya masa kecil tanpa sadar membuatnya menambahkan elemen ‘relationship’ pada film-filmnya.

“Mungkin karena waktu itu saya ndak tahu mau cerita sama siapa, tapi saya sekarang bisa cerita lewat film. Ya sekalian curhat.” kenangnya lagi sambil terkekeh geli.

Ada Apa Dengan Palu?

Ada sebuah lompatan cara bercerita dalam ‘Halaman Belakang’ hingga membuat skena film pendek nasional kala itu terhenyak. Ifa Isfansyah menganggap ‘Halaman Belakang’ sebagai sebuah film yang memberikan pengalaman visual yang baru, dekat dan sekaligus murni. Muncul pertanyaan penting disini, ada apa sebenarnya di Palu?

Tumbuh besar di kota Palu tentunya berbeda dengan di Jakarta. Lanskap pemandangan, interaksi sosial serta paparan visual yang ada di Jakarta dan Palu bagaikan bumi dan langit. Sebagai orang yang tumbuh besar di kota ini, menarik untuk melihat visualisasi yang ada di ‘Halaman Belakang’ ditampilkan sinematik dan terasa ‘sempit’ dalam warna hitam-putih. Banyak lalu bertanya, referensi visual apa yang dimiliki oleh seorang Yusuf Radjamuda sehingga membuat ‘Halaman Belakang’ menjadi sedahsyat itu.

Salah satu adegan film 'Halaman Belakang' (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Salah satu adegan film ‘Halaman Belakang’ (Sumber: Yusuf Radjamuda)

“Saya sebenarnya tak pernah punya niatan mendesain visualisasi ‘Halaman Belakang’ sedemikian rupa, semuanya mengalir begitu saja. Tapi memang, saya rasa itu sudah sangat merepresentasikan semua yang ada di sekitarku. Lokasinya cuma di belakang rumahku, pemerannya juga keponakanku, ini memang cerita nyata. Memang begitu adanya.”

Dengan rendah hati, Papa Al mengakui bahwa ia memang tidak memiliki kekayaan referensi bahasa visualnya tak bisa dibandingkan dengan sutradara lain di dunia. Keterbatasan akses membuatnya sulit untuk mengakses film-film non-Hollywood yang hanya tayang di festival, sementara kebanyakan festival film ada di luar pulau Sulawesi.

Papa Al mendapat kesempatan untuk mengunjungi Berlinale pada awal 2012. Disana lah kemudian ia menghilangkan dahaganya dengan menonton banyak film dari negara lain. Kesan tersebut begitu membekas ketika ia menulis cerita awal ‘Halaman Belakang’.

“Film ini menemukan bentuknya secara naluriah. Saya biarkan ia mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Bangkitnya Produksi Film Regional

Banyak orang yang tak sadar bahwa industri bioskop di Palu sempat mati suri selama 17 tahun. Walau begitu, budaya menonton di kota ini datang dari sejumlah inisiatif ekshibisi yang giat dilakukan oleh komunitas film di Palu. Ketika ditanya bagaimana Papa Al melihat industri perfilman dari kacamata Indonesia Timur, dengan hati-hati ia menjawab.

“Saya sebenarnya tidak tahu bagaimana mengukur dan memandang industri film Indonesia itu seperti apa. Sementara saya sendiri sering bertanya-tanya, yang diputar di Palu ini apakah sudah mewakili Indonesia film Indonesia yang sebenarnya? Saya juga ndak tahu,” selorohnya sambil tertawa renyah.

Papa Al bersama Mira Lesmana di Makassar SEA Screen Academy (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Papa Al bersama Mira Lesmana di Makassar SEA Screen Academy (Sumber: Yusuf Radjamuda)

Walau begitu, ia begitu optimis melihat perkembangan skena film regional yang kini semakin tumbuh subur, sebut saja ‘Uang Panai’ dari Makassar yang sukses menembus box office pada tahun 2016 atau ‘Ziarah’ karya BW Purba Negara yang hingga 9 Juni 2017 lalu telah mengumpulkan 30.000 penonton. Menurutnya, dengan film-film regional ini memiliki potensi yang dapat mencakup Indonesia secara keseluruhan dan menjadi industri film yang sebenarnya.

“Karena yang disebut industri film sekarang kan sebenarnya film-film yang dari Jakarta saja. Saya kira, skena-skena film lokal sangat berperan penting bagi industri film Indonesia yang diimpi-impikan banyak orang.”

Uniknya Budaya Tutur di Palu

Beda daerah, beda pula cara berceritanya. Hal ini dapat dilihat dari film di masing-masing daerah yang memiliki keunikan dari cara bertuturnya. Khusus di Palu sendiri, Papa Al berkisah tentang ketiadaan budaya tulis. “Yang ada di Palu hanya budaya tutur, karena sejarah dan mitos diturunkan lewat secara turun menurun melalui tutur kata, bukan tulisan. Dan cara bertutur ini cukup khas lah.”

Walau begitu, karena skena film lokal yang masih tumbuh, Papa Al merasa bahwa cara bertutur lewat film yang diproduksi belum cukup mewakili kultur kah atau ciri khas. “Kami masih mencari-cari dan berusaha untuk mendekati gambaran ideal,” ungkapnya. Sebagai pembuat film, ia sendiri masih bertanya-tanya apakah film-film Palu yang sudah ada sekarang sudah dapat merepresentasikan daerahnya.

“Malah mungkin justru orang di luar yang lebih bisa melihat ciri khas film-film produksi Palu. Tapi saya yakin, ciri khas film dari seluruh Indonesia sangat lezat untuk dinikmati,” ujanya optimis.

Papa Al di Makassar SEA Screen Academy (Sumber: Yusuf Radjamuda)
Papa Al di Makassar SEA Screen Academy (Sumber: Yusuf Radjamuda)

Debut Penyutradaan Film Panjang

Empat tahun sudah Papa Al tak lagi menyutradarai film pendek. Namun ini bukan tanpa alasan, ia sedang disibukkan dengan proyek film panjang pertamanya yang berjudul ‘Mountain Song’. Inspirasinya datang saat mendokumentasikan ritual raigo, tarian dan nyanyian yang dilakukan saat panen di Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Setelah riset ke daerah yang menantang secara alam dan sulit diakses, Papa Al lalu memutuskan untuk membuat ‘Mountain Song’ menjadi film panjang. Beruntung, di tahun 2016 ada program khusus dari Makassar SEA Screen Academy bagi sutradara film yang ingin debut memproduksi film panjang. Digagas oleh Riri Riza dan Mira Lesmana, Makassar SEA Screen Academy ini adalah inisiatif untuk mendorong pembuat film pemula Indonesia Timur untuk merealisasikan ide ide mereka dengan bimbingan pembuat film terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Setelah proses pengembangan, ‘Mountain Song’ berhasil memenangkan The Most Promosing Project dan mendapatkan bantuan dana serta fasilitas post production. Four Colors Films pun menjadi mitra untuk co-production.

“Sebuah kesempatan besar untuk mengembangkan ‘Mountain Song’ dengan bantuan Makassar SEA Screen Academy. Semoga saja saya bisa memenuhi ekspektasi orang-orang,” ungkapnya rendah hati.

Perbincangan mengenai produksi ‘Mountain Song’ yang kental dengan unsur budaya lokal ini diakhiri dengan keyakinan Papa Al sebagai pentingnya posisi sutradara untuk membuat konten-kontel lokal, “Saya kira penting untuk bercerita tentang apa yang ada di sekitar kita.”

Kenapa penjahat kecil terus ditangkap, tapi koruptor bebas menari? Tonton ‘Wrong Day’ selanjutnya!

Mau lebih banyak cerita-cerita keren?